Browse By

Internasionalisasi Pendidikan Banjarmasin

   Improving the knowledge for the excellence of character building. Itulah salah satu semboyan dari sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banjarmasin. Bagaimana tidak, frasa bahasa inggris ditempatkan di depan “pintu” publik. Secara terjemahan, hal itu cukup baik untuk mempromosikan pendidikan yang baik. Namun, apa tujuan sebenarnya?
    Pendidikan di Banjarmasin sudah mencerminkan peradaban berpendidkan yang baik. Penyataan ini dapat dibuktikan dengan data-data yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tahun 2011 yang menyebutkan bahwa jumlah sekolah (SD-SMA) di Kalsel sebanyak 6.887 buah sekolah. Dengan luas wilayah kalsel 37.530,52 KM2. Artinya rata-rata ada sekolah di tiap 5-6 kilometer persegi luas wilayah. Itu termasuk sekolah-sekolah yang tidak layak beroperasi.
    Jika ditinjau dari aksesibilitas anak usia sekolah yang berkesempatan untuk berpendidikan, hal itu lumayan dapat menjangkau secara luas akses kepada dunia ilmu pengetahuan. Kendati masih banyak jumlah anak putus sekolah di daerah ini. Banjarmasin, sebagai ibukota provinsi menjadi kota yang mempunyai angka anak putus sekolah yang tinggi jika dilihat dari rasio luas wilayah, yaitu sebanyak 208 siswa dengan luas kota Banjarmasin 72,67 KM2 (1:3 skala rasio).
    Data-data di atas mendeskripsikan tentang statistik pendidikan. Sebuah perhitungan matematis yang tentu saja belum mencerminkan kondisi riil. Pasalnya statistik yang dibuat oleh Dinas Pendidikan Kalsel hanya terbatas pada sisi kuantitatif. Aspek kualitatif sedikit kurang disajikan. Apakah itu artinya pendidikan mempunyai prioritas pada postur kuantitas?
    Internasionalisasi Pendidikan
    Selain itu, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional/Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI/SBI), sebagai konsepsi internasionalisasi sekolah, sudah mengambil hati masyarakat Banjarmasin. Torehan fakta itu tertuang di media-media lokal. Seperti Banjarmasin Post, yang banyak mengulas tentang sekolah-sekolah di Banjarmasin yang sudah berstatus RSBI. Antiklimaks dari pemberitaan itu pada januari-maret tahun ini, ada beberapa sekolah yang dihentikan bantuan dananya karena dinilai, masih belum mencapai target sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.
    Melihat lebih dalam secara filosofis, RSBI atau SBI yang berdasarkan data Diknas Kalsel (2011) di Kalsel ada sekitar dua puluh dua sekolah, hal ini membuktikan sudah menjamur dan diklaim Kemendikbud sebagai program pendidikan yang menumbuhkan wawasan global. Maknanya dapat ditangkap dengan jelas, ingin mengembangkan dan memajukan potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang produktif ke arah SDM yang kompeten di kancah internasional. Jika begitu, penempatan manusia Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan setara dengan bangsa lain adalah bentuk cita-cita dari pendidikan Indonesia saat ini.
    Rapuhnya RSBI
    Sebenarnya, seberapa benarkah jalur yang ditempuh para pembuat kebijakan pendidikan di Tanah Air. Memang, landasan pendidikan yang digunakan di Banjarmasin lebih menekankan pada Keimanan dan Ketaqwaan (Imtaq), namun tak cukup, perlu adanya pelestarian budaya atau dengan kata lain memperpanjang rantai kearifan lokal dari generasi satu ke generasi lainnya. Karena budaya adalah produk cipta, rasa, dan karya manusia, seperti mengangkat nilai-nilai filsafat banjar ke dalam muatan lokal kurikulum.
    Jumlah sekolah yang memadai kiranya patut dimanfaatkan oleh masyarakat banjar untuk menyirami benih-benih generasi emas. Demi mendukung program bonus demografi yang beberapa tahun ke depan akan menjadikan Indonesia Negara-bangsa yang produktif. Tidak perlu terlalu gencar dengan hasrat ingin mencetak generasi berwawasan global dengan kompetensi penguasaan sains dan teknologi berorientasi asing atau dengan kata lain menggembar-gemborkan kultur asing yang banyak memandang ilmu secara materialistik. Bukankah hal itu justru akan menjadi bumerang. Karena sistem RSBI/SBI yang sekarang diterapkan adalah cacat. Itu mendapat tentangan keras oleh mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef. Ia meminta sistem RSBI dibubarkan, karena itu bersifat inkonstitusional (melanggar UUD 1945) dan juga karena menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya (kompas.com).
    Tidak naïf jika sekiranya kita menelaah kembali, apa pasal yang mendorong pemerintah menciptakan sekolah berstandar Internasional. Sejauh ini, RSBI bahkan SBI yang menyedot anggaran di APBN tidak sedikit. Menurut pemberitaan di media massa lokal Banjarmasin, RSBI selalu mendapat hibah dana APBN sebesar Rp 500 juta per tahun. Dengan alokasi anggaran tersebut, sebuah sekolah di Kalsel beberapa tahun yang lalu bahkan mendatang guru-guru profesional dan ahli dalam bidangnya, serta mempunyai gelar panjang di belakang namanya. Tidak juga dapat dipungkiri, lulusan dari sekolah tersebut mempunyai kemampuan yang mumpuni. Tak ayal itu membuat pengelola sekolah tersebut mengklaim sekolahnya sukses mengimplementasikan kebijakan RSBI.
    Ya, itulah yang diinginkan oleh pemerintah, lulusan dari sekolah internasional akan menjadi manusia yang andal, mampu berkompetisi ditataran global, keterampilan yang di atas rata-rata, serta mampu berbahasa asing dengan baik. Kurang lebih seperti itulah harapan para pengambil kebijakan pendidikan di Negara ini.
    Budaya dan Nilai
    Lalu, dimanakah penempatan budaya sebagai bagian dari pendidikan di Kota Banjarmasin?. Memakai pakaian Sasirangan dan menyusupkan pengetahuan budaya dalam kurikulum pembelajaran, yang pasti hanya akan diingat sebentar dan terlupakan ketika ia lulus. Kekurangan itulah yang seharusnya menyadarkan masyarakat Banjarmasin, terutama peletak dasar otonomi pendidikan di Banjarmasin. Bahwa apa yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Panca Dharma: asas kodrat alam, asas kemerdekaan, asas kebudayaan, asas kebangsaan, dan asas kemanusiaan (dalam suatu penelitian pakar pendidikan IAIN Sunan Ampel, Surabaya), adalah benar adanya. Kesinergian antara pemikiran Ki Hajar Dewantara dan pengembangan aspek pemikiran dari Al-Qur’an dan Hadist, diproyeksikan akan memberikan efek yang besar bagi kualitas pendidikan di Banjarmasin. 

Oleh :
Agung SetiawanC1C110108
Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat
Jalan HKSN Komplek AMD Permai Blok B-4 No. 100 Banjarmasin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *