Browse By

Sejarah Kota

    Layaknya seorang manusia yang bertanya-tanya siapa jati dirinya, maka ia akan berefleksi pada suatu masa di saat dirinya dibentuk oleh kultur dan elemen kognitif, afektif, dan psikomotornya. Pijakan masa tersebut akan ia jadikan tumpuan bagi sebuah lompatan menuju masa depan yang lebih baik. Learning from the past; managing the present; shaping the future, kurang lebih seperti itu idealnya. Demikian halnya dengan kota yang terbentuk dari perkembangan sejarahnya. Struktur dan pola permukiman yang tumbuh di sepanjang sungai besar atau berkembang di kawasan pesisir pantai dapat dijelaskan oleh teori-teori sejarah terbentuknya kota dari tiga komponen utama yaitu folk (komunitas)-work (aktivitas)-place (tempat/ruang).

Meski belum sepenuhnya disadari, salah satu hal yang terpenting baik secara teoritis maupun secara historiografik dari penelusuran struktur dan sejarah kota adalah masuknya elemen “ruang” dalam analisis dan perenungan kita akan perubahan atau bahkan transformasi sebuah masyarakat. Pengamatan sepintas terhadap bentuk-bentuk kota di berbagai belahan dunia menunjukkan kota sebagai daerah yang ditandai dengan tembok yang mengelilingi sebuah ruang dan pintu-pintu gerbang yang mengatur dan membatasi keluar masuknya siapapun. Ini berarti kota, tidak seperti kebanyakan desa, memiliki ruang yang secara khusus dibatasi dan penggunaan ruang di dalamnya yang secara sengaja diatur dan dikelola. Satu elemen yang muncul dari berbagai batasan mengenai kota, menurut Max Weber (1954), adalah adanya kumpulan tempat tinggal yang terpisah namun dalam satu permukiman yang tertutup. Di dalam ruang yang tertutup inilah, tercampur aspek kekuasaan bersenjata/ militeristik sebuah
Kota (karena sejatinya kota adalah juga benteng) dan aspek pasar di mana berbagai komoditas dipertukarkan dan transformasi/interaksi antar-kultur dipertemukan.
Secara teoretik, kota dan pembahasan tentang sejarah kota seharusnya menyadarkan kita bahwa ruang (dalam hal ini ruang kota) bukanlah sesuatu yang alamiah yang ada begitu saja secara kebetulan atau yang diatur oleh invisible hands yang tak memihak. Struktur dan pola ruang kota memiliki sejarah dengan proses pembentukannya yang dapat dilacak dan dianalisa secara jelas. Dalam hal ini kita dapat melangkah lebih jauh dari apa yang sudah disarankan oleh beberapa pakar yang memandang kota dari sudut pandang sosio-historical yang kerap dijadikan refernsi dalam menelaah psikologi perkotaan bahwa dengan sensitifitasnya yang khas akan fenomena sosial dan peranan ilmu sosial dalam pengkajian sejarah perkotaan, terdapat penekanan terhadap 5 (lima) aspek penting dalam konteks sejarah kota, yakni ekologi kota, transformasi sosial-ekonomi, sistem sosial, problema sosial, dan mobilitas sosial. Secara jitu, para ahli menunjuk pada aspek sosial dari transformasi kota sebagai aspek sentral dalam penulisan sejarah kota. Dengan melihat aspek sosial ini, kita dapat lebih mudah memahami bahwa kota bukanlah sebuah entitas alamiah (yang terjadi tanpa intervensi relasi sosial) semata.
Salah satu kelemahan dari pendapat para pakar tersebut adalah aspek spasial (keruangan). Kenyataan bahwa kota (urban), yang tentunya berlainan karakternya dengan desa (rural), adalah sebuah ruang yang dibatasi dan diregulasi oleh satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam memahami perubahan masyarakat kota yang demikian dinamisnya. Namun ruang kota bukan hanya location and location bagi terjadinya perubahan sosial (seperti yang cenderung ditekankan oleh Weber). Dalam pelacakan sejarah ruang kota ini kita dapat (dan harus) melihat bagaimana ruang kota diproduksi dan direproduksi dari masa ke masa karena bagaimana pun struktur dan pola ruang kota tidaklah akan terlepas dari sejarah pembentukannya.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana hubungan antara proses produksi (dan reproduksi) ruang kota ini dengan proses dinamika masyarakat kota? Apakah proses produksi ruang kota bersifat otonom dan terlepas dari dinamika masyarakatnya? Atau sebaliknya, terdapat tarik menarik yang erat di antara kedua proses tersebut?
Kesulitan untuk mempertimbangkan aspek spasial dalam menganalisis struktur dan pola sejarah kota muncul karena ruang sering dianggap sebagai sesuatu entitas obyektif seperti selembar kertas kosong yang begitu saja ada secara alamiah dan “siap” untuk diisi apa saja. Untuk membedakan dengan pemahaman ruang secara “obyektif” seperti ini Henri Lefebvre menggunakan istilah “alam kedua” (second nature) dimana kondisi obyektif ruang telah ditransformasikan dan dimaknakan secara sosial dan historis.3 Tempat-tempat suci (seperti ruang masjid, altar dan sejenisnya) dan tempat politis (seperti ruang tidur raja, batu/ tempat pelantikan, dan lainnya) adalah contoh ekstrim ruang-ruang “obyektif” yang sudah berubah secara sosial dan historis menjadi “alam kedua.” Namun lebih lanjut, Lefebvre menekankan bahwa seluruh muka bumi ini sudah dipenuhi dengan ruang yang memiliki makna dimana maknanya dibentuk dari proses sosial yang berubah dari masa ke masa. Di luar ruang-ruang “luar biasa” seperti kedua contoh di atas, terdapat juga ruang-ruang “biasa” dalam kehidupan sehari-hari di kota (seperti pabrik, perumahan, daerah “lampu merah,” terminal, dan sebagainya). Ruang-ruang ini bukan hanya mencerminkan adanya status sosial yang berbeda, namun lebih dari itu, merupakan penentu bentuk relasi sosial antar lokasi.
Lefebvre sering dikritik karena terlalu jauh menganggap bahwa proses produksi ruang kota memiliki dinamikanya sendiri yang tidak hanya terpisah dari dinamika proses pembentukan kelompok sosial dan relasi sosial tapi juga mempengaruhi proses tersebut. Dia dianggap melakukan pemujaan berlebihan akan pentingnya ruang dalam analisanya (fetishism of space).
Para pengkritiknya seperti David Harvey dan Manuel Castell (yang adalah muridnya), mencoba lebih menekankan pada adanya dialektika antara proses spasial dengan proses sosial, antara ruang dan masyarakat. Ruang, seperti juga masyarakat, memiliki sejarah, dan sejarahnya dibentuk dalam dialektikanya dengan masyarakatnya.4 Secara lebih jelas, pemahaman yang menekankan akan adanya dialektika proses produksi ruang dengan proses produksi sosial ini disebut oleh Mark Gottdiener sebagai the social production of urban space yang memiliki 4 karakteristik.5
Pertama, relasi spasial maupun relasi temporal (historis) merupakan aspek yang intrinsik dalam masyarakat. Hubungan antara satu ruang dengan ruang yang lain dari masa-kemasa merupakan bagian integral dari satu masyarakat. Kedua, fenomena geografis dan demografis merupakan cerminan dari proses tarik menarik dari relasi sosial. Terbentuknya daerah permukiman padat yang “kumuh” ataupun pusat pertokoan tidak terlepas dari adanya perubahan relasi sosial, intervensi modal, dan kekuasaan negara di dalam dan di luar kota. Ketiga, meski bisa dianggap bahwa ada hubungan antara bentuk dan status bagian/ ruang kota dengan moda-moda produksi dalam sistem ekonomi yang kapitalistik yang mewarnai kota, namun hubungan tersebut tidak otomatis ataupun statis. Keempat, proses produksi ruang kota tidak hanya merupakan proses perubahan struktur ruang tetapi juga melibatkan peranan aktor-aktor yang memiliki pilihan untuk mengikuti struktur yang berubah tersebut atau bahkan ikut merubah struktur.
Apabila pentingnya hubungan antara dinamika masyarakat dan dinamika ruang kota sudah dapat menjadi dasar penting dalam melihat perkembangan struktur dan pola ruang kota, pertanyaan yang pantas diajukan pada saat ini adalah akan di bawa ke mana pola perkembangan kota di masa mendatang?
Sebuah Statement
— Kota yang maju adalah kota yang menghargai eksistensi sejarah kotanya —

Oleh : Febry Erfin wardhana
Mahasiswa Jurusan Ilmu Study Pembangunan 2009

One thought on “Sejarah Kota”

  1. Anonim says:

    sumber : sejarah kota (ovantheman.blog.co.uk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *