Browse By

Si Kembar UNLAM

                Sejak diresmikan menjadi Universitas Negeri di Kalimantan Selatan, UNLAM sudah terbagi di dua lokasi yang berbeda, yakni Banjarmasin dan Banjarbaru. Di mata masyarakat Banua, Universitas kita ini sangat unik dibandingkan dengan Universitas lain di luar daerah, mengapa? Karena bentuknya mirip komplek sekolahan. Antara fakultas yang satu dan yang lain lokasinya berbeda-beda. Sudah terbentang jarak antar kota, tiap fakultas berbeda-beda pula tempatnya. Itulah keunikan Universitas kita ini jika dibandingkan dengan Universitas lain yang memiliki gedung megah berlantai delapan dan tiap fakultas hanya berbeda tingkat saja.

Tentu sudah menjadi hal yang mutlak dimana ada kelebihan disitu ada kekurangan. Jika menyorot persoalan perbedaan lokasi Unlam yang terbagi dua antara Banjarmasin dan Banjarbaru, mengapa seringkali terdengar adanya ‘perbedaan’ antar dua Unlam ini? Seperti yang dituturkan oleh rekan kita Annisa, “Mungkin ada pendapat dari sebagian mahasiswa Unlam Banjarbaru yang menganggap kampusnya lebih bagus daripada Unlam Banjarmasin, dan juga sebaliknya. Mungkin anggapan itu karena fasilitas yang diberikan berbeda antara Banjarmasin dan Banjarbaru, makanya ada rasa kecemburuan atau iri antar pihak” komentarnya. Mahasiswi Fakultas Teknik jurusan Teknik Sipil 2011 ini mengambil contoh kasus dampak perbedaan lokasi pada fakultasnya sendiri, “Di Teknik Banjarmasin fasilitas labnya tidak selengkap kampus di Banjarbaru, karena pusatnya Fakultas Teknik kan di Banjarbaru, lagipula kami mahasiswa di Banjarbaru juga kewalahan kalau harus pulang-pergi ke Banjarmasin untuk menemui dosen. Teman-teman dari Banjarmasin juga sering pulang-pergi ke Banjarbaru hanya untuk memakai lab di Fakultas Teknik Banjarbaru” tambahnya.

Selain itu, efek karena perbedaan lokasi ini juga semakin ‘HOT’ kala pembayaran SPP maupun mengurus hal-perihal di gedung rektorat. Siapa yang dirugikan? Tentu saja saudara kembarnya Unlam Banjarmasin. Dalam dunia kegiatan Mahasiswa bisa diambil contoh saat diadakannya seminar atau workshop di salah satu fakultas, meskipun kegiatan yang diadakan bersifat umum namun peserta yang berhadir hanya bertumpu pada lokasi yang sejenis. Contohnya, fakultas Ekonomi mengadakan seminar yang ditujukan untuk umum, dan ironisnya peserta yang berhadir 80 % bersumber dari fakultas-fakultas tetangga di komplek Unlam Banjarmasin. Begitu juga sebaliknya, fakultas Kedokteran mengadakan seminar kesehatan untuk umum, yang berhadir paling-paling juga tetangga di Unlam Banjarbaru.

            Nah, setelah sedikit mengupas kulitnya, kita lihat juga bagaimana isinya, yakni mahasiswa yang bersangkutan. Ternyata setelah berstatus ‘mahasiswa’ yang notabene nya sudah berpikiran matang, masih ada oknum-oknum yang diibaratkan sebagai pelaku etnosentrisme, menganggap bahwa ‘Unlamnya’ lebih bagus dari pada Unlam yang satunya. Pasti banyak di antara kita yang berhenti sejenak untuk berpikir kala ditanya berapa fakultas sih yang ada di Unlam Banjarbaru? Ada berapa jurusan di fakultas Teknik ? Atau fakultas apa sih yang terletak paling ujung di Unlam Banjarmasin? Ironisnya, banyak yang salah menjawab atau malah cuek sama sekali pada saudara Unlamnya. Pemikirannya adalah seperti ini, untuk apa memikirkan mereka, toh saya kuliah di Banjarmasin / Banjarbaru. Selain itu, seperti kasus pemilihan Presma beberapa waktu yang lalu, kedua kandidat berasal dari lokasi yang berbeda, sudah pasti pihak pemilih lebih memihak kepada kandidat yang berada di lokasi yang sama dengannya. Si A yang kuliah di Unlam Banjarbaru sudah pasti memilih calon Presma dari Banjarbaru, sebaliknya si B yang kuliah di Unlam Banjarmasin akan memilih calon Presma dari Banjarmasin.

                Menyoal rapuhnya pemahaman mahasiswa tentang makna persaudaraan sebenarnya bisa dicegah melalui berbagai strategi. Disinilah letak peran organisasi-organisasi maupun himpunan yang berada di bawah naungan label UNLAM. Seperti yang diungkapkan oleh Rizky Ridhoni, “Tiap mahasiswa memiliki peran penting sebagai sumber aspirasi, kita dapat menyalurkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk organisasi yang ada maupun para petinggi lainnya bagaimana solusi untuk memecah perbedaan yang ada” komentar mahasiswa Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi 2011 ini. Organisasi-organisasi yang dimaksudkan di sini mencakup keseluruhan, mulai dari BEM Unlam, BEM tiap Fakultas, Himpunan-himpunan, dan UKM yang bernaung di bawah label UNLAM. Keseluruhan organisasi yang ada dituntut untuk memberikan dampak menyeluruh yang bisa dirasakan semua mahasiswa terkait kegiatan yang mereka adakan, berbagai macam inovasi terus dikembangkan untuk merekatkan persaudaraan antar Unlam.

                Lantas, bagaimana contoh kegiatan yang sebaiknya terus diadakan oleh Universitas kita? Menurut Gt.Tika Rizka Hayati, “Misalnya dengan event perlombaan bidang olahraga antar fakultas, disini BEM masing-masing fakultas sangat berperan untuk membangun keakraban antar prodi” gagas mahasiswi FKIP jurusan Pendidikan Ekonomi 2008 yang akrab dipanggil Tika ini. Namun, kita sebagai mahasiswa jangan hanya bertumpu pada para Organisatoris, kita yang sejatinya mampu berpikir cerdas dalam menghadapi berbagai problematika memiliki berbagai kreatifitas tersendiri untuk meningkatkan persaudaraan antar sesama warga UNLAM, mulailah dengan cara yang sederhana dengan memanfaatkan teknologi. Melalui jejaring sosial, kita bisa mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya dari fakultas yang berbeda, zaman sekarang teknologi mutakhir sudah menembus jarak dan batas yang membentang. Solusi lain bisa dengan memanfaatkan teman-teman lama, caranya dengan bersilaturahmi ke fakultas mereka, selain dapat berceloteh dengan teman lama kita juga bisa mengenal teman-teman yang baru di sana. Jangan memulai provokasi dengan menjelek-jelekkan salah satu fakultas, karena tanpa kita sadari kita juga berarti menjelekkan Universitas kita sendiri. Kegiatan luar seperti halnya Klub, Komunitas, maupun kursus juga dapat menambah pengalaman, pelajaran serta teman-teman baru yang tentunya pasti akan menghasilkan beragam manfaat untuk kita.

            Seperti apapun problematika yang menggeluti batang tubuh UNLAM, sejatinya kita adalah satu. Kita bernaung di bawah naungan UNLAM, mengenakan almamater yang sama, dan juga akreditasi yang sama. Lantas, mengapa hal kecil yang bersifat pribadi dapat merenggangkan tali persaudaraan kita sesama warga Unlam? Kita pasti mengharapkan kemajuan yang signifikan pada diri UNLAM. Sebagai mahasiwa yang bermartabat sudah menjadi kewajiban kita untuk menjalin harmonisasi dalam lingkup dunia pendidikan kita agar tak kalah saing dengan Universitas lain, mulailah dari kerjasama yang baik antar sesama warga Unlam untuk meningkatkan kualitas secara integral, bukan parsial.

Oleh:
Wia Rizqi Amalia
C1C111007
Mahasiswi Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi.
Universitas Lambung Mangkurat (2011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *