Browse By

Kaki Tangan Langit

    Ingatkah engkau saat kita pertama bertemu ?. Kala itu kau datang bersama langit kelabu, hujan turun dengan derasnya membasahi tubuhmu yang lemah. Sebelum kau jatuh tersungkur, aku merangkul tubuhmu dalam pelukan hangatku. Kau tampak menggigil, seragam sekolahmu basah kuyup. Hari itu kau datang padaku tanpa sebab, hingga aku berpikir Tuhan mengirimkan seorang malaikat untukku. Malaikat kecil yang malang sehingga aku harus menolongnya.
Secangkir cokelat panas menemani perbincangan kita kali ini. Kau kembali datang bersama langit kelabu. Jendela kaca di sisiku menyuguhkan pemandangan menyedihkan. Rinai hujan berjatuhan di luar sana, menorehkan embun di balik kaca jendela. Aku sempat berpikir apakah cuaca diatur olehmu? Sungguh, itu pertanyaan konyol. Tapi mengapa selalu terpikir olehku ?. Langit tampak kelam, begitu pula wajahmu, kulihat pancaran aura pekat dari wajahmu yang pucat. Hujanpun turun bersamaan dengan bulir airmata yang mengalir di pipimu.
”Setiap hari aku selalu melihatnya..”

Kau berkata lirih. Isak tangismu terdengar samar tertutup oleh gemuruh guntur di luar sana. Aku mengelus pipimu yang tirus, dadaku begitu sakit saat kau menatapku dengan sorot mata iba. Mata indah itu berkaca-kaca menabur luka. Sungguh malang nasibmu, malaikat kecilku. Kau terlahir di tengah lautan harta orang tuamu, kau adalah seorang puteri di masa kini. Namun, apalah arti semua kemewahan itu jika tak dapat memberimu segores senyum kebahagiaan.
“Mungkin kau salah lihat, saat itu sedang banyak orang, bukan? Kau pasti salah mengira orang itu adalah Papa”

Aku mencoba menghiburmu, bahkan mungkin sudah jutaan kali kulakukan. Namun tetap saja nihil. Senyuman yang ingin kulihat darimu belum jua kau perlihatkan. Aku turut merasakan apa yang kau rasa saat ini, luka menganga di hatimu terus menyiksamu setiap hari. Papa yang bermuka dua. Ia memainkan dua peran sekaligus dalam hidupnya. Sayang, malaikat kecilnya ini mengetahui kedua sisi Papa yang selama ini memberinya sekeping cinta dari kepingan yang lain.
“Apa kau tidak mengerti?! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.. Kau pikir aku berhalusinasi dengan jarak sedekat itu?”
Suaramu meninggi. Guntur kembali terdengar, kali ini menggertakan kaca jendela. Aku tahu aku harus diam, kalau tidak amarahnya mungkin akan membawa badai di luar sana. Saat ini aku hanya dapat menatapmu terisak, bahumu yang kurus terguncang. Oh, sungguh malang malaikat kecil yang satu ini. Lama aku membiarkanmu larut dalam kesedihan, kaupun akhirnya tertidur pulas. Saat tidur, kau tampak seperti Barbie yang malang. Aku berharap semoga kau tidak bermimpi tentang Papa yang tengah asyik berlabuh bersama wanita lain. Aku kasihan padamu, kau menyaksikan hubungan gelap itu dengan mata kepalamu sendiri.
Jam dinding menunjukkan pukul 6 petang saat kau membuka mata. Sejenak, kau mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum mata kita bertemu. Aku berjalan menghampirimu dengan sebongkah senyuman.
“Hujan sudah reda, kau mau pulang sekarang ?” tanyaku.
Kau mengangguk. Kedua matamu terlihat membengkak. Aku berjalan sambil menggandeng erat tanganmu menuju pintu Café. Sebelum kau pergi, kuberikan senyum terbaik yang aku miliki. Akhirnya kau pergi, di bawah siluet senja kau berlari menjauh bersama bayanganmu. Kini, aku melenggang masuk ke dalam, mencomot pakaian berkerah ini dan mulai bekerja lagi. Aku, si jalang yang bersiap menunggu lebah-lebah liar itu menghisap maduku.
********
Hari ini kau mengajakku duduk di meja area terbuka. Pagi-pagi buta kau datang hanya untuk duduk di gazebo taman bersamaku. Matahari belum sepenggallah naik, bau basah tercium dan burung-burung kecil berkicau menambah hangat suasana pagi. Hari ini untuk pertama kalinya kau menyunggingkan senyuman di bibirmu. Aku senang melihatnya, sekaligus penasaran ada apa gerangan.
“Liburan musim lalu aku ke Singapura bersama Papa, dia membelikanku baju dan kami berkeliling sepuasnya di Studio Universal sampai malam tiba, aku senaaang sekali. Tadi malam Papa berjanji akan mengajakku ke Eropa musim ini !”
“Hanya kau dan Papa ?” tanyaku.
“Ya ! Hanya aku dan Papa !”
“Kau pasti senang ya Kana, nanti sampai waktunya tiba, ceritakan padaku tentang liburanmu di Eropa ya !”
“Iya, pasti kuceritakan !”
Kau berseru dengan mata berbinar. Mungkinkah kau tengah mencoba menepis segala gundahmu ?. Ku pandangi langit yang cerah di atas sana, begitu bersih dan indah. Kini aku menoleh padamu, betapa indahnya senyuman itu. Kali ini kita tertawa bersama sambil memainkan tuts piano di gazebo. Lagu yang kau mainkan terdengar begitu harmonis. Suara malaikat kecil di hadapanku ini terdengar bagaikan senandung surga.
    Tak lama, malaikat kecilku berpamitan pulang, ia berlari meninggalkanku di bibir pintu. Lambaian tanganmu ku balas senada. Dari kejauhan kulihat kau seakan berbinar. Cahaya matahari menuntun langkahmu yang kini sudah menghilang di ujung jalan. Aku bernafas lega, setidaknya hari ini mungkin tidak akan hujan. Mungkinkah ?.
    Langit sore menggantungkan warna kelabu. Bunyi guntur terdengar bersahutan. Batinku bergejolak saat melihatmu menyambangi pintu Café dengan wajah kusut. Buru-buru aku menghampirimu.
    “Ada apa Kana ?” tanyaku cemas.
    Kau terisak. Aku menemanimu duduk di samping jendela seperti biasa, memandangi rintik-rintik hujan yang membuat kaca jendela mengembun. Warna-warni payung terlihat buram di balik kaca jendela. Aku sesekali mengelus rambut cokelatmu. Kau meremas-remas kemejaku sambil terisak.
    “Bajingan !”
    Aku tersentak mendengar kata itu terucap dari bibir manismu. Tak kusangka kau bisa mengucapkan kata yang sungguh tidak pantas untuk anak seusiamu. Kau bahkan mengucapkannya berulang-ulang sambil memukul-mukul punggungku.
    “Kana, ada apa ? Ceritakan padaku” pintaku.
    “Lena, aku melihatnya lagi ! Persis seperti kemarin, sepulang sekolah aku membuntuti Papa.. Dia menemui wanita yang kemarin bersamanya. Aku tidak mungkin berhalusinasi !”
    Kau melepas pelukanku. Matamu memancarkan kemarahan. Aku mengelus pipimu dengan penuh rasa iba. Sebenarnya aku bingung harus mengatakan apa padamu, melihat sorot mata penuh kebencian itu hatiku menciut, entah kenapa aku begitu takut padamu.
    “Bermainlah dengan Mama, pasti kau tidak sedih lagi” saranku.
    “Tidak ! Mama itu lemah, dia cuma bisa menangis dan terus menangis di hadapan Papa. Pasti karena itu Papa membencinya ! Papa akan memukulnya kalau ia menangis, sudah jelas Papa membenci Mama !”
    Kau berteriak padaku. Aku terdiam sambil mengerutkan alis. Aku bingung dengan malaikat kecil di depanku ini. Tiba-tiba air mukamu berubah, aura kemarahan itu sedikit meredup. Kau meraih jemariku dan menggenggamnya. Dingin sekali.
    “Akupun selalu menangis di depanmu, apa kau membenciku ?” kau bertanya dengan polos. Aku tersenyum geli seraya mencubit hidungmu.
    “Tidak Kana, aku menyayangimu!” jawabku.
    Di luar sana hujan mulai berangsur reda. Aku mengantarmu berjalan menuju pintu Café. Kau melangkah menjauhi Café di bawah gerimis yang dingin sambil menunduk. Suara gemericik sepatu merahmu di jalanan yang basah terdengar semakin pelan, kini kau sudah lenyap dari pandanganku.
********
    Wahai Penguasa Langit, aku punya sebuah permohonan padaMu.. Berilah malaikatku secercah harapan untuk bahagia.. Aku tak sanggup setiap kali dia menurunkan hujan atas kesedihannya.. Aku tak sanggup meredam kebencian itu..
    Hari ini kau kembali datang bersama langit kelabu. Pakaian serba hitam yang kau kenakan begitu kontras dengan langit di atas sana. Cheese cake dan cokelat panas yang kusuguhkan langsung kau embat dengan begitu rakus. Kau melahapnya dengan bengis, tanpa menatapku sedikitpun.
    “Kau lapar ?” tanyaku.
    “Hari ini Mama tidak memasak apapun. Dari pagi dia diam saja berbaring, kupanggilpun tidak menyahut” jawabmu datar.
    “Mungkin Mama sedang sakit, kenapa kau tidak menemaninya ?”
    “Ah, percuma ! Dia tidak pernah mau bermain bersamaku. Bagaimana bisa aku menemaninya ?!”
    Kau memandangiku dengan kesal. Mata itu, tajam seperti belati yang dingin. Tiba-tiba angin bertiup kencang, Café inipun tak luput dari terjangannya, rambutku terombang-ambing diterpa angin dingin. Kau menatapku sedingin angin itu.
    “Lena, sebenarnya.. Mama sudah meninggal”
    “A-apa ?!”
    Aku tersontak kaget mendengar penuturan kalimat itu dari  mulut kecilmu. Aku mendekatkan badanku dan menatapmu lekat-lekat.
    “Apa maksudmu Kana ?”
    “Mama sudah meninggal. Dia diam saja di dalam peti matinya. Ku panggil-panggil tidak menyahut, artinya dia benar-benar sudah meninggalkanku. Kalau Mama menyayangiku, seharusnya dia membuka matanya kembali, bukan?!”
    Seluruh badanku lemas. Bulu romaku berdiri di sekujur tubuhku. Begitu tragis, kenapa malaikat kecilku begitu malang nasibnya. Aku beralih posisi ke sampingnya, ku rangkul malaikat kecil itu dalam pelukanku. Kau diam saja berada dalam dekapan pelukku, sesekali kau mendongak menatapku yang sedang terisak. Air mataku jatuh menimpa rambutmu, semakin erat aku memelukmu, semakin dahsyat rasa sakit yang kurasakan.
    “Kenapa kau menangis ?” kau bertanya dengan penuh keheranan.
    Aku tak dapat menjawabnya. Andai kau tahu rasa sakit yang kurasakan, ada sesuatu yang ku rasa begitu menyesakkan dada ini, rasa hina yang begitu besar. Perlahan-lahan aku dapat mengendalikan emosiku kembali, aku terkulai lemas di sampingmu.
    “Kana.. Kenapa kau ceritakan kisahmu pada orang sepertiku ?”
    Mendengar pertanyaanku, kau menatap wajahku dengan tatapan hangat. Ada kedamaian yang kulihat di mata itu.
    “Karena kau orang yang baik. Kau bukan Mama, bukan pula Papa, tapi kau orang yang baik karena hanya kau yang mau menemaniku !” jawabmu dengan penuh percaya diri.
    Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Malaikat kecil itu membalas senyumku dengan penuh kehangatan. Jari jemarimu yang kecil meraih pipiku dan menghapus airmata yang mengalir.
    “Sudah, berhentilah menangis”
    Kali ini kita bertukar tempat. Bukanlah Kana, si Gadis lugu yang menangis, namun Lena, si Perempuan hina yang menitikkan airmata penuh penyesalan. Aku menghabiskan saat-saat senja bersama Malaikat kecilku, dia mulai tersenyum meski ada kesedihan di raut wajahnya. Siluet senja menembus kaca jendela di sampingku, kau menatap langit untuk sesaat sebelum akhirnya berpamitan pulang.
********
    Matahari masih belum menampakkan tanda-tanda kehadirannya, langit masih kelam dengan Purnamanya yang indah. Kurasakan bagian belakang kemejaku ditarik-tarik oleh seseorang. Begitu berbalik, aku melihat wajah yang begitu memelas tengah mengintipku dari belakang. Aku menunduk menyamakan tinggi badanku dengan malaikat kecil ini.
    “Kana, ada apa pagi-pagi menemuiku ?” tanyaku.
    Kau terisak. Aku kebingungan dengan ulahmu. Di tempat yang biasa, aku menyaksikan airmata itu mengalir dari matamu. Lama aku menunggu kau bersuara karena hanya isak tangis yang bergema di telingaku.
    “Kana, ada apa ?” aku mengulangi pertanyaanku.
    “Papa tidak ada ! Aku ditinggal pergi olehnya ! Pasti wanita itu yang membawanya!”
    “Ta-tapi Kana, mungkin saja ia ada urusan pekerjaan sehingga pergi pagi-pagi buta, kau tidak boleh berpikiran buruk seperti itu !”
    “Tidak ! Aku yakin ! Toh, wanita itu masuk ke rumah kami sejak tadi malam !” teriakmu.
    Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. Napasku tersengal. Perasaan aneh menjalari tubuhku hingga menusuk jantungku, sakit sekali rasanya. Ku lihat wajahmu penuh kemarahan, desiran angin dingin berhembus menusuk tulang. Jendela di sisiku menyuguhkan pemandangan kelam dengan helaian daun yang terombang-ambing diterpa angin kencang.
    “Dasar bajingan..”
    Aku tersentak mendengar kalimat itu terlontar dari mulutmu. Matamu menatap tajam ke luar jendela. Entah mengapa ketakutanku memuncak. Aku berjalan meninggalkanmu sendirian di sana. Aku tak berani menemuimu kembali. Bagaikan dikejar setan, aku bersembunyi darimu di balik bilik pribadiku.
    Lama aku terkurung dalam bilik sempit ini. Begitu ku langkahkan kaki keluar, kau sudah tidak ada lagi di tempat. Secangkir cokelat panas masih terlihat penuh. Kau bahkan tak mereguk minuman kesukaanmu itu. Mataku menangkap selembar uang seratus ribuan yang menyempil di balik alas cangkir.
    “Sejak kapan kau membayarku ?”
    Aku bertanya pada bayangan imajinasi semu sosok malaikat kecil yang sedang terpaku menatap jendela dengan penuh amarah. Ku raih uang itu, lain kali pasti kukembalikan padanya. Aku kembali bekerja seharian penuh, hingga matahari tergelincir di ufuk barat. Malam ini aku ada janji dengan pria itu, seorang pria kaukasoid yang bekerja di perusahaan asing. Ia menjadi pelangganku sejak enam bulan terakhir.
    Tuan Giggs, begitu aku memanggilnya. Ia datang membawakan seikat mawar merah, begitu kontras dengan gaun malam yang membalut kulitku. Kami berbincang seputar rutinitas sehari-hari. Ayah dua anak itu tak suka rayuan, ia bukanlah tipe ‘serangga’ lain yang ku kenal.
    “Malam ini kau cantik sekali”
    Tuan Giggs memujiku. Hanya kalimat itu yang biasa ia katakan padaku, jika ia berkata demikian, maka aku cukup tersenyum manja dan ia  pasti terhibur. Kami berdua larut dalam perbincangan, hingga tak menyadari seorang malaikat kecil berlari ke arahku, ia langsung menyergapku dari belakang.
    “Kana ?!”
    Aku begitu panik. Bagaimana bisa kau menemuiku dalam keadaan seperti ini. Ku lihat ada aroma kecemasan dari wajahmu. Kau tak berkomentar apapun tentang penampilanku, gaun malamku kau remas seperti halnya kemejaku yang biasa. Raut wajahmu seakan merengek meminta belas kasih.
    “Aku ingin hidup sepertimu !”
    “Apa maksudmu ?” tanyaku keheranan.
    “Aku ingin tinggal denganmu, dan menjadi sepertimu !”
    Kau menjawab dengan penuh kepastian. Aku terkulai lemas. Sesaat aku menatap Tuan Giggs yang tampak kebingungan dengan kehadiran gadis kecil di sampingku. Ada perasaan tertekan yang menghimpit rongga dadaku, ingin rasanya aku mencabik tubuhku sendiri. Aku segera bangkit dari tempatku terkulai. Ku raih tangan kecil malaikatku dan berlari keluar Café dengan derai airmata yang mengucur deras.
Di bawah sinar rembulan aku berlari bersamamu, tak ada kepastian ke mana tujuan kaki ini berlari. Sementara rintik hujan mulai berjatuhan dari langit, aku terus berlari, kau mengekor jejak hinaku dari belakang. Biarlah hujan menghapus jejakku. Teruslah berlari, malaikatku, jangan kau tengok ke belakang, dengan begitu kaupun tak akan tahu betapa kelamnya hidupku selama ini. Andai kau tak datang padaku, berapa banyak malaikat kecil yang terenggut hidupnya di luar sana, hanya karena orang sepertiku. Aku menjerit sepuas-puasnya, namun tetap saja perasaan bersalah itu tak jua pergi dari hatiku.

Last edited on November 6, 2012
Oleh : Wia Rizqi Amalia (Mahasiswi Fakultas Ekonomi – Akuntansi 2011)
Curcol ==== sebelumnya dibikin tanggal 26 Juli untuk dikirim ke lomba cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan, tapi lagi belum ada nasib baik . Hari ini diedit buat dikirim ke beloved redaksi JK.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *