Browse By

FEATURE : Yang Penting Anakku Bisa Makan

Oleh: Inayatul Huda
 
Aku sayang dengan Almarhum Istri dan anakku di rumah, karena aku seorangsuami dan juga seorang ayah..
Ahmad (Kai Penjual Air)
 
Namanya Ahmad, ialah lelaki tua yang aku temui sewaktu membeli sate dipinggir jalan Kayutangi Banjarmasin. Ia hanya seorang pedagang air bersih, bekerja dari pagi sampai larut malam. Umurnya sekarang sudah menginjak 71 tahun. Setiap harinya membawa gerobak berisi 12 dirigen air yang volumenya masing-masing dirigen tersebut kurang lebih 20 liter.
Aku mencoba memberanikan, awalnya hanya sekadar menyapanya. Kemudian berlanjut dengan obrolan kecil. Dengan nafas yang terengah-engah, beliaumengawali perbincangan denganku tentang kesehariannya.
“Kai’, dari jam berapa jualan air?”
Dari pagi sampai malam, pagi itu ngambil air dulu di sumur belakang rumah (wilayah BATOLA) terus jalan ke pasar dan ke warung-warung pinggir jalan di seputaran Kayutangi Banjarmasin. Malam ini baru laku 1 dirigen, kadang tidak ada yang laku sampai malam. Satu dirigen ini kai jual 10 ribu, kalo kamu mau beli nanti kai antar kerumah,” ucapny sambil duduk beristirahat.
Ia mengaku mempunyai lima anak, tapi itu anak tetangganya yang seringbermain ke rumah. Sudah 20 tahun ia menginginkan untuk bisa memiliki anak dari pernikahan dengan istrinya, namun, sang istri lebih dulu meninggalkannya untuk selamanya – karena menderita penyakit paru-paru basah. Alasan karena tidak cukup uang untuk membawa orang tercintanya itu ke rumah sakit, ia merawat belahan hatinya tersebut sendirian sampai akhirnya meninggal dunia tanpa pengobatan yang baik.
Subhanallah! Aku terkejut mendengar kisah lelaki hebat ini. Merawat anak tetangga demi ingin merasakan menjadi seorang Ayah – tanpa memikirkan hidupnya yang susah. Bahkan hanya untuk makan sehari-hari, ia harus menyeret gerobak yang isinya – untuk seusianya –  sungguh sangat berat.
Kai,sudah makan?”
Belum, nanti mau cari makanan. Biasanya tengah malam begini, banyak warung makan yang buang sisa-sisa makanan. Kalau tidak ada biasanya beli nasi putih dan kerupuk saja sebungkus, buat anak-anak di rumah, makannya pakaigaram,” katanya sambil tersenyum.
Lagi-lagi diriku terus menahan air mata mendengar kisahnya. Terbayangjika dihadapanku ini adalah kakek atau ayahku sendiri.
“Yang terpenting anak-anak kai senang dan bisa makan, kai juga ikut senang. Almarhum istri kai juga pasti bahagia, karena ia punya anak yang banyak,” yang kesekian kalinya kai tersenyum bercerita tentang perasaannya yang mungkin sangat berat untuk sebagian orang.Tapi, arti sebuah senyuman itu adalah simbol keikhlasan dan tanggung jawab yang besar seorang lelaki untuk menghidupi ‘keluarganya’. 
Lama aku memandangi wajah senjanya, seolah begitu banyak cerita hidup masa lalunya, sambil mendengar cerita tentang pekerjaannya sehari-hari, ia menambahkan kadang tidak berjualan karena punggungnya sudah mulai terasa sakit-sakitan.
Aku terus menahan airmata sampai tidak terasa malam semakin larut. Ia pun pamit pulang. Dengan tubuh bungkuknya ia mulai menarik gerobak beratnya. Dikejauhan sayup-sayup terdengar “Air bersih! Air bersih!,” suaranya
Ya Allah engkau Maha Besar yang menciptakan Lelaki sehebat Kai Ahmad diusia rentanya masih bisa bekerja untuk mendapatkan rezeki-MU, bukan untuk dirinya tapi, untuk makhluk kecil ciptaan-MU dan lelaki yang memiliki rasasayang yang besar kepada makhluk terindah-MU baginya yang sudah tiada. Semoga bisa jadi inspirasi buat semua.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *