Browse By

Kelesuan Dalam Berorganisasi, Mematikan Jiwa Kritis Mahasiswa

Organisasi adalah suatu wadah berkumpulnya orang-orang dengan pemikiran sepaham dan kemudian bersama-sama mengorganisasikan diri mereka untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi dapat bergerak di bidang sosial, ekonomi, keagamaan, kesenian, dan berbagai bidang lainnya. Organisasi merupakan cerminan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan merupakan makhluk sosial yang memerlukan orang lain dalam kehidupannya.
Pada tingkatan perguruan tinggi, mahasiswa sebagai agent of change juga melibatkan diri mereka dalam kegiatan keorganisasian di kalangan kampus. Organisasi mahasiswa yang kita ketahui sekarang terbagi dua yaitu organisasi mahasiswa intrakampus dan organisasi mahasiswa ekstrakampus. Organisasi intrakampus merupakan organisasi kampus yang berdiri di bawah naungan perguruan tinggi dengan pendanaan dari pengelola perguruan tinggi. Sedangkan organisasi ekstrakampus merupakan organisasi di luar naungan perguruan tinggi yang dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa yang memiliki persamaan berskala nasional.
Sebagai tujuan utama pendidikan di perguruan tinggi yang menyiapkan mahasiswa sebagai cendekiawan muda dan intelektual penerus bangsa yang kritis maka difasilitasilah kegiatan keorganisasian sebagai wadah bagi mahasiswa mengembangkan kepribadian serta soft skill yang mereka miliki. Kegiatan perkuliahan rutin : belajar-diskusi-praktek dinilai belum mampu mengasah kemampuan mahasiswa lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Dalam sejarah perkembangan Indonesia sendiri, organisasi mahasiwa mengambil peranan penting sebagai ujung tombak perubahan. Pada tahun 1908 berdirinya Budi Utomo sebagai perkumpulan cendekiawan muda dengan pemikiran kritis dilanjutkan dengan sumpah pemuda. Kemudian di tahun 1966, mahasiswa yang dikemudian dikenal sebagai angkatan ’66 melengserkan Orde Lama. Kembali terjadi di tahun 1998 gerakan reformasi dengan mahasiswa sebagai ujung tombaknya menuntut keadilan demi masyarakat dan melengserkan Orde Baru. Begitu kuatnya kekuatan pemikiran kritis mahasiswa. Dapat dikatakan organisasi kampuslah yang menjadikan suasana perkuliahan di lingkungan kampus menjadi lebih hidup. Menjadikan mahasiswa lebih mahasiswa, di mana mahasiswa sesungguhnya adalah seorang agen perubahan yang peduli, peka, tanggap terhadap isu-isu dan masalah di kalangan masyarakat dan melibatkan mereka sendiri dengan terjun ke masyarakat dalam pemecahan hal tersebut.
Bagaimana jadinya jika minat mahasiswa terhadap organisasi kampus berkurang?
Kita tidak dapat menutup mata dengan realita kehidupan organisasi kampus sekarang. Kita tentu pernah mendengar istilah “mahasiswa kupu-kupu” yaitu mahasiswa yang hanya datang untuk perkuliahan di dalam kelas saja, tetapi informasi dan update berita terbaru yang tidak berkaitan dengan kuliahnya tidak diperdulikan. Istilah ini sekarang tidak hanya menjadi istilah tetapi telah merebak seperti wabah.
Mahasiswa cenderung kurang berminat mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan organisasi-organisasi di kampus. Jangankan untuk terlibat sebagai pengurus, mengikuti kegiatannya saja tidak tertarik. Mereka lebih tertarik mengikuti perkumpulan-perkumpulan tanpa ada ikatan resmi dan mengikat yang memberikan tanggung jawab kepada mereka untuk dipenuhi.
Dari hasil survei yang dilakukan tim jurnal reportase dengan membagikan kuisioner kepada 66 orang mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan di Fakultas Ekonomi UNLAM, 74,24% responden hanya sekedar mengetahui nama organisasi tanpa mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan organisasi tersebut, 6,06% bahkan tidak mengetahui tentang organisasi dan kegiatannya. Hanya 19,69% mahasiswa mengetahui organisasi berserta kegiatannya. Ada beberapa yang hanya mengetahui organisasi kampus dari perkenalan organisasi saat P2B fakultas. Dari angka yang cukup tinggi ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa hampir setengah dari mahasiswa tidak terlibat aktif -baik sebagai peserta maupun panitia- dalam kegiatan yang dilaksanakan organisasi di lingkungan kampus. Padahal kegiatan yang dilaksanakan organisasi kampus tujuannya untuk memfasilitasi dan menunjang mahasiswa dalam kegiatan utamanya yaitu perkuliahan. Sekali lagi ditekankan bahwa “Jangankan untuk terlibat sebagai pengurus, mengikuti kegiatannya saja tidak tertarik.” Mari kita analogikan sebagai “Jangankan berperan aktif dalam tindakan nyata pada permasalahan di masyarakat, perduli saja tidak.”
Mahasiswa boleh saja pandai dalam perkuliahan, diskusi-diskusi di kelas dengan berbagai argumen solusi yang ditawarkannya. Tetapi yang terpenting dari semua pemikiran-pemikiran kritis yang disampaikannya selama perkuliahan adalah perwujudannya menjadi suatu tindakan nyata. Dengan berorganisasi maka membedakan mahasiswa dengan siswa-siswa sekolah dalam hal mengaplikasikan ilmu yang didapatkan. Walaupun mengikuti kegiatan keorganisasian saja sebenarnya belum memaksimalkan peran mahasiswa sebagai agent of change.
Peran tekanan dunia kerja dalam mengubah pola pikir kritis mahasiswa
Ketakutan terbesar seorang mahasiswa adalah ketika ia lulus tetapi tidak mendapatkan pekerjaan. Alih-alih menyandang gelar sarjana dengan bangga justru menyandang gelar pengangguran berdasi. Fokus pikiran mahasiswa adalah bagaimana mendapatkan IPK tinggi kemudian diterima di perusahaan/instansi bonafit. Seringkali dalam sebuah iklan pekerjaan ditekankan bahwa pelamar pekerjaan misalnya memiliki IPK minimal 2,75.
Organisatoris kampus bahkan dosen sudah seringkali mengingatkan bahwa ilmu dan pengetahuan yang didapatkan mahasiswa melalui perkuliahan biasa adalah hard skill. Kemampuan berkomunikasi, bersosialiasi, beradaptasi, berkreasi, dan berinovasi yang notabene adalah soft skill didapatkan melalui pengalaman berorganisasi. Awalnya dalam mencari karyawan memang perusahaan melakukan penyaringan akademis, tetapi ketika memasuki lingkungan pekerjaan soft skill yang berperan lebih besar.
Oleh karena tekanan dan pola pikir inilah mahasiswa begitu mengagung-agungkan IPK. Padahal senyatanya esensi dari IPK itu hanyalah nilai di atas kertas. Ilmu dan kemampuan sebenarnya adalah apa yang ada di kepala masing-masing. Yang seharusnya terjadi adalah dapatkan ilmu sebanyak-banyaknya lalu IPK akan mencerminkan apa yang telah didapatkan, bukan kejarlah IPK setinggi-tingginya dengan cara “apapun” masalah bisa atau tidak bisa urusan belakangan.
Alasan umum mahasiswa tidak melibatkan diri pada organisasi karena mereka tidak bisa melakukan manajemen waktu dengan baik ketika berorganisasi sehingga mengganggu kestabilan IPK. Inilah letak tantangannya. Ketika bermain game dan ingin naik ke level yang lebih tinggi tentu tingkat kesulitan game tersebut meningkat. Maka demikian pula dalam kehidupan nyata. Ketika mahasiswa ingin mendapatkan kualitas sebenarnya seorang mahasiswa maka ia harus melewati tantangan perkuliahan, salah satunya manajemen waktu. Ketika mahasiswa telah menguasai manajemen waktu, maka kemampuan itu menjadi nilai tambah tersendiri yang nantinya akan menunjang IPK.
Kita tidak mencoba mengatakan bahwa soft skill lebih penting dari hard skill, dan berorganisasi lebih penting daripada menjaga kestabilan IPK. Tetapi mari kita luruskan kesalahan pola pikir kita sebagai mahasiswa bahwa seharusnya soft skill dan hard skill  harus seimbang, dan kemampuan berorganisasi akan menunjang nilai IPK. Dengan pemikiran tersebut mahasiswa akan menjadi mahasiswa yang sebenarnya, dimana pekerjaan tidak mencari kita tetapi kita yang dicari pekerjaaan.
Menggiatkan promosi organisasi dan kegiatannya.
Ketua BEM terpilih tahun 2013, Muhammad Thaha, ketika diwawancarai tidak menampik kenyataan bahwa sebagian besar mahasiswa kurang peduli dengan organisasi kampus. Tidak hanya ketidakpopuleran organisasi kampus, mahasiswa juga sampai tidak mengenali dosennya. Hal ini menurutnya karena daya kritis mahasiswa setiap tahun semakin berkurang.
Sungguh ironis melihat kondisi realita yang ada di lingkungan kampus. Padahal mahasiswa adalah intelektual calon pemimpin bangsa. Apa jadinya jika hal ini terus berlanjut? Tidak menutup kemungkinan hal ini berkembang menjadi suatu bentuk sikap apatis terhadap apapun yang tidak menimbulkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Di mana kemudian mahasiswa menjadi pribadi yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada mengabdikan ilmu mereka bagi kemaslahatan orang banyak.
Organisasi kampus sendiri telah menyiapkan berbagai program kerja untuk lebih memperkenalkan organisasi. Walaupun sebenarnya program pengenalan ini selalu ada setiap tahunnya, seperti P2B dan lain-lain. Dan program-program lain yang telah direncanakan himpunan dan UKM dengan caranya masing-masing. Thaha menyebutnya sebagai mempromosikan dengan bersosialisasi. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa setiap anggota organisasi sebaiknya memulai dari diri pribadi dulu yaitu mencontohkan dengan sikap bagaimana seorang anggota perkumpulan mahasiswa seharusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *