Browse By

Pemimpin Untuk Semua, Bukan Untuk Kalangan Terbatas Saja

Dahniar, SE., M.Si
Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya kelak di hari kemudian. Demikian ajaran bijak mengatakannya. Ya, minimal dapat memimpin dirinya sendiri dan memimpin keluarganya. Untuk menjadi seorang pemimpin mestinya harus mempunyai 3 sifat AR, yakni : pintar, benar, dan sabar.

Seorang pemimpin harus pintar untuk dapat me-manageseluruh sumber daya yang ada di jajaran institusinya. Kepintaran seorang pemimpin terlihat dari rekam jejak kapasitas intelektualnya, juga sepak terjang memecahkan persoalan-persoalan yang timbul. Konflik yang ada dalam organisasi bukan dihindari akan tetapi justru diramu menjadi semacam stimulus agar terlihat dinamikanya. Seorang pemimpin adalah seorang yang optimis yakni yang selalu melihat jawaban di setiap persoalan, bukan pesimis yang selalu melihat persoalan di setiap kesempatan. 

Seorang pemimpin harus benar, maksudnya ia adalah seorang yang mempunyai landasan nilai dan integritas moral yang kokoh. Ia akan menjadi panutan dalam ucapan maupun tindakannya. Ia tidak hanya omdo (omong doang), tetapi ia akan memberikan contoh atau suri teladan yang baik dan bijak bagi seluruh jajaran institusinya.


Seorang pemimpin harus sabar, maksudnya ia adalah seorang yang mempunyai sifat dapat mengendalikan emosi artinya tidak temperamental dalam menghadapi berbagai macam masalah dan situasi yang akan dihadapi selama masa kepemimpinannya.

Dalam tarikh Khulafa Ar Rashidin terdapat penjelasan bermakna siapa yang sesungguhnya berhak menjadi seorang pemimpin, tak lain adalah mereka yang telah terbukti dan teruji perjuangannya dan selalu mengambil bagian secara aktif dalam mengatasi segala persoalan yang dihadapi oleh bawahannya.

Prof Dr. Chairil Effendy MS,  mengingatkan kita dalam memilih seorang pemimpin perubahan sejati yang membawa kemajuan bagi seluruh kalangan, dikatakan beliau “Pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri.” Penulis menambahkan pemimpin untuk semua bukan untuk kalangan terbatas saja!. Artinya pemimpin yang baik tidak pernah pilih kasih dalam memperlakukan bawahannya, adil dalam kebijakan, tidak subyektifitas, sehingga tidak ada istilah like dan dislike, memberikan kesempatan yang sama pada bawahan baik untuk pengembangan karier maupun keikutsertaan berbagai macam kegiatan, bukannya untuk kalangan tertentu saja.

Jadi apabila seseorang telah duduk menjadi pemimpin tanpa mempunyai sifat-sifat kepemimpinan ideal seperti yang saya tulis, ya mestinya belajar dong! Refleksi diri dong melalui pencarian masukan-masukan dari kawan maupun lawan. Jangan hanya dari kolega terdekatnya saja yang cenderung memanfaatkan aspek yang enaknya saja.  

Mulai sekarang berubahlah! Sebelum –(maaf)– disumpahin oleh “penderitaan” lahir dan bathin dari mereka yang merasa tersakiti dan terzalimi” baik oleh ucapan maupun tindakan kita sebagai seorang pemimpin, baik sengaja maupun tidak sengaja, walaupun sangat diyakini maksud awalnya adalah baik, ideal, serta menuju tujuan dan cita-cita organisasi. Ya namanya juga hati, siapa tahu apa yang ada dalam benak anak buah (di belakang mengumpat) tetapi di depan pimpinan “membungkuk” bahkan terlihat sangat  hormat

Dan yang harus diingat bahwa roda kehidupan ini berputar, tidak selamanya kita berada diatas, ingat akan terjadinya apa yang disebut gejala potensi post powere syndrome  yang akan menimpa seseorang yang telah menjadi pemimpin! So, jadilah pemimpin yang baik yang pandai menghargai orang lain. Karena pemimpin akan dihormati sebagai pribadi bukan sebagai pejabat. Walaupun jabatan telah lama tertanggalkan, tetapi jajaran institusi / bawahan akan tetap memberikan respek yang excellent karena kepribadian kita sebagai pemimpin. Semoga! Amin

Sebelum penulis mengakhiri tulisan ini hanya ingin mengingatkan pada para pembaca dengan Sabda Rasulullah SAW yang secara tegas menunjukkan kriteria seorang pemimpin yang boleh dipilih demi keselamatan seluruh umat manusia, sabda yang dimaksud adalah sebagai berikut; “Barang siapa memilih seseorang, sedangkan ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih layak dari yang dipilihnya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan Amanat Kaum Muslimin”, dikutip dari M. Quraish Shihab (1994) dalam bukunya “Lentera Hati”. (*)

 Oleh : 
Dahniar, SE.,M.Si

Dosen Manajemen FE Unlam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *