Browse By

CERPEN : Malaikat Bersayap Putih


MALAIKAT BERSAYAP PUTIH
Oleh Ida Muliyati

 Kemilau sinar matahari bergerak menembus kaca bening. Cahayanya memantul pada wajah pucatku. Dari balik jendela aku memperhatikan jalanan di luar. Beberapa pejalan kaki bergerak cepat dengan mantel dingin mereka. Sudut mataku mengikuti mereka, pergi satu per satu menghilang di kejauhan. 
 Musim semi pertama datang dua hari yang lalu tetapi sisa-sisa kebekuan musim dingin belum sepenuhnya pergi. Pagi ini, kaki dan tanganku bergetar kedinginan, mencoba mencari kehangatan dari sinar matahari. Merapat di sudut kamar di bawah jendela, memandang dunia luar. Dari hamparan langit biru, aku akan menemukan ceritaku yang hilang. 
 Duniaku -entah sejak kapan- adalah kamar persegi empat dengan dinding-dinding dingin berwarna putih, gorden dan kasur dengan warna yang sama. Sisanya hanya furniture yang berwarna lembut. Lantai marmer dengan alas berbulu tebal tempat menemukan kehangatan di musim dingin yang lalu. Satu-satunya yang memberi warna hanyalah bingkai foto 4R yang terletak di atas nakas. Ayah, Ibu, dan adikku, Elena. Memperlihatkan senyum yang dulu ku miliki dan sekarang sudah ku lupakan bagaimana tersenyum seperti itu.

 Aku memejamkan mataku, mengingat-ingat tanggal hari ini. Aku sudah lama sekali tidak bertemu mereka. Hanya setiap enam bulan sekali mereka mengunjungiku. Aku memang merindukan mereka, tetapi mereka sepertinya tidak pernah. Saat mereka datang itupun hanya untuk membayari seluruh biaya pengobatanku. 
 Elena, adikku, tidak mengenaliku lagi. Setiap ia datang, aku berubah begitu banyak. Saat ini saja aku sudah kehilangan semua rambutku, tubuhku kurus hanya kulit berbalut tulang. Iris mata biru yang dulu bernyala-nyala dengan semangat kini sudah meredup suram. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku bertahan hidup. Entah untuk siapa.
 Tok…tok..tok…
 Suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamar rawatku. Aku masih memejamkan mata ketika pintu terbuka. Aroma menyengat alkohol semakin pekat mengisi kamarku. Walaupun rasanya sesak, aku sudah terbiasa. Aku terbiasa dengan rasa sakit, sesak nafas hanyalah seujung kuku dari rasa sakit yang kurasakan selama ini.
 “Selamat pagi, Crystal!” sapa Suster Linda. Ia baru merawatku tiga bulan yang lalu tetapi ia berusaha begitu keras untuk mencoba akrab denganku. Aku tetaplah aku. Aku sudah lupa cara bersosialisasi. Ini adalah tahun ketigaku dalam kurungan ini. 
 Ia berjalan ke arah jendela dan menarik keseluruhan gorden. Membiarkan cahaya matahari menemukanku dalam kesuraman kamar steril serba putih ini. Tanpa henti mengoceh tentang berita terbaru hari ini. Suster yang merawatku sudah berganti lima kali. Selama perawatan tiga suster terakhir, aku tidak pernah bicara banyak kecuali ya dan tidak. Suster Linda adalah yang paling menyenangkan di antara mereka semua, walaupun demikian aku tetap diam karena aku sudah lupa cara berbicara yang benar. Tanpa menakuti orang-orang.
 Sebuah cerita yang tidak pernah lupa ia katakan padaku adalah tentang keadaan Gabriel, seorang pasien kanker hati. Seorang bocah berusia sepuluh tahun yang tinggal di sebelah kamarku. Begitulah katanya. Hari ini dari ceritanya, Gabriel membuat sebuah lukisan tentang malaikat bersayap putih di atas hamparan salju. Gabriel terlahir kurang beruntung tetapi ia berbakat. Hampir lima puluh lukisannya sudah laku dilelang untuk amal. Aku? Aku tidak punya apa-apa. Aku manusia biasa yang mendapatkan karmanya.
 “Suntikan vitamin dulu ya!” suster Linda meraih lengan kiriku dan menyuntikkan cairan -entah apa- ke dalam tubuh lemahku. Lalu setelah itu dia akan memberikan puluhan butir obat-obatan dengan bermacam warna untuk ku minum sebagai sarapan. 
 Aku diam dan memandangi langit pagi yang beranjak menemukan warna biru cerahnya. Dalam hati aku berbisik, mataku tidak seindah itu lagi. Ada satu titik, kecil sekali, sekecil debu, di dalam hatiku, di mana aku menyesali apa yang telah terjadi kepadaku. Aku ingin semua kehidupan sempurnaku kembali. Lalu ketika aku memandangi segala kehidupan di luar jendela dengan batas kaca itu, aku mengerti satu hal. Aku adalah sebuah cerita untuk menjadi pelajaran bagi mereka yang sepertiku. 
 “Suster!” suaraku lemah, terdengar menyerupai bisikan saja. Tetapi suster Linda mendengarnya dan keterkejutan tidak bisa ia sembunyikan di wajahnya. Belum pernah aku berbicara kepadanya selain ya dan tidak.
“Malam tadi aku bermimpi indah sekali. Aku dipeluk malaikat.” 
“Ceritakan Crystal!” pinta suster Linda setelah menguasai keterkejutannya.
Pandanganku teralih lagi pada langit dengan arakan awan putihnya. “Aku duduk di atas salju. Aku tidak merasa dingin lagi, Suster. Ia tersenyum dan mengucapkan namaku, lalu memelukku. Ketika memelukku kedua sayapnya terbuka. Warnanya putih, lembut seperti sutera, harum sekali. Aku tidak pernah mencium bau harum seperti itu.” Aku berpaling memandangi suster Linda. Ia tersenyum padaku, sangat tulus. Di kedua sudut matanya aku melihat air mata hampir menetes. 
“Crystal, sayang! Akhirnya kau mau bercerita kepadaku. Gabriel yang manis itu tentu telah melihat mimpimu juga dan melukiskannya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
“Suster, ini sudah musim semi. Aku ingin melihat musim dingin lagi, melihat salju lagi. Aku ingin bertemu dengan malaikat itu. Dia orang paling rupawan yang pernah ku lihat,” ucapku lirih. 
Embun-embun pagi mulai menguap dengan cahaya pelanginya di dedaunan di luar jendela. Kuncup-kuncup bunga telah bermunculan. Kebetulan jendela kamarku berada di samping kebun bunga yang bersisian dengan jalan. Seekor kupu-kupu kuning datang dan jariku bergerak mengikuti gerakan lambat-lambat kupu-kupu itu. 
 “Suster!” panggilku pada suster Linda yang ikut memperhatikan gerakan jariku di kaca jendela.
“Ya?”
“Katakan pada keluargaku, aku minta maaf. Katakan pada mereka untuk menceritakan kisahku pada yang lain agar tidak akan ada yang berada di posisiku saat ini. Katakan juga aku mencintai mereka.” 
“Tentu saja. Mereka pasti bangga padamu, Nak!” 
 Hari ketiga di musim semi, ketika seekor kupu-kupu datang ke kebun di samping jendela kamar rawatku, aku pergi selamanya meninggalkan dunia.
***
Crystal Alison, berumur dua puluh dua tahun. Ia mengidap penyakit HIV AIDS. Terjangkit karena kebiasaan buruknya mengkonsumsi narkoba suntik. Obat-obatan yang membuatnya berhalusinasi sementara dan lari dari masalahnya. 
Crystal pernah menggugurkan janinnya karena ia tidak ingin memiliki seorang anak. Terlebih usianya saat itu delapan belas tahun, sangat muda dan rapuh. Ayahnya meninggal sejak ia berumur lima belas tahun. Ibunya menikah lagi. Ia membenci pernikahan ibunya, karena pernikahan ibunya ternyata hanya menyakiti ibunya sendiri. Ibu dan ayah tirinya tidak cocok satu sama lain. 
Elena, satu-satunya adik Crystal seorang autis. 
Tetapi, manusia tidak diberikan cobaan untuk dihindari dan berlari pergi dari masalah itu. Menyelesaikannya hanya dengan menghadapinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *