Browse By

CERPEN : Putri Bunian

Taken from fotolog.com

PUTRI BUNIAN
Oleh Ida Muliyati – Anggota Produksi LPM Jurnal Kampus
Naskah diikutsertakan dalam Proyek GPM Amuntai Antologi Cerpen Keliling Kalsel
Ketika aku menyibak tirai kamar, langit pagi masih gelap, semburat kemerahan sang fajar masih merayap malu-malu di ufuk timur. Tanah masih tertutup bayang-bayang hitam malam yang belum menyingkir pergi. Di jendela kaca kamar penginapanku tercetak titik-titik udara yang mengembun. Mengatakan kepadaku bahwa udara di luar masih sangat dingin. Aku baru selesai sholat subuh dan tergelitik untuk mengintip pagi buta di Teluk Tamiyang, kurang lebih 90 kilometer dari pusat kota Kotabaru, salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan.
Dua hari yang lalu aku dan rekanku, Kemal, tiba di Bandara Syamsudin Noor, tepat tengah hari. Dua jam tertunda delay di Bandara Juanda, Surabaya. Padahal kami cuma transitdi sana. Kemudian melanjutkan perjalanan panjang selama sepuluh jam yang sangat melelahkan untuk sampai di Teluk Tamiyang. Hampir tengah malam kami baru tiba dan disambut bunyi-bunyian jangkrik di kiri dan kanan penginapan.
Namaku Rifki Hasan.

Aku seorang kameramen, fotografer, dan apapun itu yang berhubungan dengan kamera. Aku bekerja di salah satu stasiun televisi swasta. Dan bersama Kemal sedang mendokumentasikan keindahan dasar laut Teluk Tamiyang yang katanya tidak kalah dari Bunaken. Tentu saja Kemal yang berperan sebagai host.
Aku berjalan dengan perlahan agar tidak menimbulkan keributan di lorong penginapan, menuju pintu keluar untuk menyapa pagi buta Teluk Tamiyang. Jalan-jalan pagi yang singkat di pantai tentu akan menjadi awal hari yang indah sebelum kami memulai syuting.
Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya, berkali-kali ku ulangi. Dengan serakah membawa semua kesegaran oksigen pagi hari memenuhi paru-paruku yang sudah lama terkontaminasi udara kota yang penuh polusi. Aku membiarkan hembusan angin laut yang dingin menyentuh kulit tubuhku yang panas, agar setiap selnya beregenerasi lagi menjadi lebih muda. Aku berjalan pelan di sepanjang garis pantai.
Di suatu pelosok Indonesia ini aku menemukan keindahan yang luar biasa.
Aku menolehkan pandanganku ke ujung samudera. Horizon langit yang telah berganti warna menjadi keemasan menarik segala perhatianku. Dalam irama ombak yang teratur, di air laut yang biru kehijauan aku melihat sinar matahari mulai menapaki bumi. Laut bagai cermin raksasa di bawah langit yang terlihat tanpa batas.
Ketika aku mengalihkan pandangan lagi ke depan, seorang gadis berperawakan mungil dengan rambut hitamnya yang tergerai berjalan keluar dari pantai. Tidak terpengaruh dengan udara dingin sama sekali. Layaknya peri yang baru keluar dari laut. Mungkin ia jelmaan putri duyung yang telah mendapatkan kakinya dan memutuskan berjalan-jalan di pantai.
 Ia berlutut di pasir putih yang lembut, mengeluarkan beberapa karang yang ku lihat tergenggam di kedua tangannya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh aku bisa melihat wajahnya yang putih, hidung mancung tidak seperti orang kebanyakan, dan rambutnya yang hitam tebal. Seolah ia bisa merasakan pandanganku, ia pun menoleh. Matanya coklat, bulat sempurna dengan pandangan yang dalam. Dan ia telah menangkapku dalam tatapan matanya.
Aku masih seperti terhipnotis tanpa sadar tetap melangkahkan kakiku semakin mendekatinya. Dalam jarak yang lebih dekat, rupanya bahkan hampir menarik napasku beberapa detik. Ia sangat cantik. Dan kecantikannya terlihat menyatu sempurna dengan sekelilingnya. Seolah ia pusat dari keindahan di tempat ini. Pasir, pohon nyiur, air laut, semuanya menjadi indah karena telah tersentuh kehadirannya.
Aku berhenti dengan sendirinya di hadapannya. Tersihir oleh senyuman yang kemudian terbentuk di wajahnya.
“Hai, aku baru melihatmu. Kamu orang baru di sini?” tanyanya ramah.
“Iya. Aku baru datang dua hari yang lalu, “ jawabku. Selama eksistensiku aku belum pernah bertemu gadis secantik makhluk yang di hadapanku ini. Bahkan di Pulau Jawa sekalipun.
“Oh! Selamat datang di Kotabaru,” balasnya kemudian berdiri. Aku menduga umurnya dua puluh tahun. Walaupun tubuhnya mungil, wajahnya terlihat dewasa. Orang-orang di sini memang berperawakan mungil.
“Kamu tidak kedinginan?” aku menunjuk pada kaki telanjangnya yang telah basah terkena air laut.
“Ah, tidak. Ini sudah biasa. Aku setiap hari ke sini. Hari ini aku sedang mengambilkan karang untuk adikku,” jawabnya malu-malu.
Gadis ini seperti hanya dalam ilusiku saja. Ia seperti bidadari yang dijatuhkan dari langit dan terdampar di suatu pelosok negeri untuk ditemukan. Aku yang menemukannya.
Kami berjalan-jalan di sepanjang garis pantai sembari mengobrol ringan.
“Ngomong-ngomong namaku Rifki Hasan, Panggil aku Rifki,” ucapku memperkenalkan diri.
“Namaku Nata,” jawabnya singkat.
“Hanya Nata?” tanyaku sangsi. Untuk orang kota sepertiku namanya terdengar tidak lazim.
Ia menggeleng, “Lebih panjang dari itu. Sangat panjang malah. Aku lebih suka memperkenalkan diri dengan nama pendek saja,” jelasnya. Selama menjawab pertanyaanku ia tidak pernah berhenti tersenyum.
“Kamu orang asli sini? Tinggal di dekat sini ya?”
“Iya. Aku putri di sini,” tambahnya lagi. Putri? Maksudnya? Aku mengernyit. Tanpa sadar aku telah menyuarakan keherananku itu karena mendengar ia menjawab.
“Ayahku pemilik tempat ini.”
Aku hanya mengangguk-angguk saja. Takut bertanya lebih lanjut karena untuk ukuran orang yang baru kenal aku sudah bersikap sangat ingin tahu terlalu berlebihan. Mungkin ia anak kepala desa. Bukankah kepala desa dapat dikategorikan pemilik? Atau pak camat? Atau bupati? Yang jelas aku ketahui ia memang pantas menjadi seorang putri.
Pertemuanku dengan Nata berakhir ketika matahari samar-samar terlihat muncul. Nata berpamitan lebih dulu yang membuatku sedikit kecewa karena berharap ia bertahan lebih lama. Meninggalkanku dengan banyak sekali pertanyaan menggumpal yang membuatku penasaran.
***
Beberapa hari berlalu sejak pagi itu. Aku selalu berniat untuk keluar pagi-pagi sekali dan berharap bertemu Nata. Tetapi selalu ada saja hal yang menghalangiku. Sosoknya seperti tertempel dipikiranku. Aku heran. Jika ia putri pemilik tempat ini, kenapa aku tidak melihatnya selama melakukan syuting. Padahal aku berkeliaran kesana-kemari. Tidak sekalipun aku menemukannya.
Aku disibukkan dengan pengambilan gambar tempat-tempat indah di Teluk Tamiyang. Kami juga melakukan penyelaman untuk menggambil gambar terumbu karang bawah laut Teluk Tamiyang. Memang benar jika Teluk Tamiyang sangat indah. Air lautnya jernih, aku bahkan bisa melihat langsung ke karang-karang yang terbias sinar matahari di dasar laut. Tetapi selama menyibukkan diri, aku terus merasa gelisah. Semuanya karena pikiranku tertuju pada gadis yang ku temui di pagi buta beberapa hari yang lalu.
Suatu pagi ketika aku dan Kemal sarapan di penginapan, aku bertanya kepada pelayan yang membawakan kami makanan. Karena Nata berkata kepadaku ia anak pemilik tempat ini artinya tidak ada orang yang tidak mengenalnya.
“Kamu kenal Nata? Putri kepala desa di sini?” tanyaku pada pelayan itu. Ia seorang perempuan yang kurang lebih seumuran dengan Nata.
“Maaf Pak. Saya tidak kenal dengan Nata. Bapak kepala desa juga tidak punya putri, anak beliau laki-laki,” jawabnya sopan.
“Kalau begitu anak Pak Camat? Pak Bupati?”
“Pak camat juga tidak memiliki anak perempuan Pak. Kalau pak bupati memang punya anak perempuan tetapi namanya bukan Nata. Namanya Diani Marissa,” jawab pelayan itu tambah tidak mengerti dengan pertanyaan anehku. Aku mengernyit bingung dan mengucapkan terimakasih.
Nata semakin misterius.
“Nata? Siapa tuh?” celetuk Kemal.
“Gadis yang gue temui beberapa hari lalu. Cantik banget. Gue gak pernah liat cewek secantik dia sebelumnya.”
“Ah yang bener lo? Guejadi penasaran. Kok gue gak pernah liat dia sih.”
“Itu dia masalahnya. Gue juga gak pernah liat dia lagi semenjak pagi itu. Padahal kita keliaran kesana kemari. Ini juga bukan Jakarta yang luas banget. Dia bilang dia putri pemilik tempat ini.”
“Cantiknya kayak gimana sih?”
“Bayangin aja malaikat.”
Aku dan Kemal tenggelam dalam kemisteriusan Nata.
“Jangan-jangan dia orang Saranjana Rif,” ucap Kemal keras. Tiba-tiba saja mengagetkanku karena suaranya seperti baru tersadar dari lamunan panjang.
“Saranjana itu daerah mana?” tanyaku tidak tahu.
“Kata orang-orang desa yang gue ajak ngobrol ada suatu mitos mengenai tempat yang disebut Saranjana. Kota gaib yang posisi tepatnya gak ada yang tahu. Yang pasti di Pulau Kotabaru ini. Orang-orang yang tinggal di Saranjana semuanya gaib. Orang-orang menyebutnya orang Bunian. Mereka bukan jin, manusia juga seperti kita hanya saja halimun atau gaib. Kita gak bisa ke sana kecuali kita dijemput untuk ke sana. Nah yang biasanya dijemput itu, gak pernah balik lagi ke keluarga mereka dan dianggap hilang,” jelas Kemal.
“Terus apa hubungannya sama Nata, Mal?” tanyaku bingung.
“Penduduk Saranjana fisiknya tampan dan cantik. Kalau losampai pangling gitu Rif, gue yakin Nata orang Saranjana.”
Aku tidak tahu harus berkomentar apa mendengar kisah mistis yang diceritakan Kemal. Nata justru menjadi lebih misterius setelah aku mendengar cerita itu. Seperti mantra hal itu justru memperparah pikiranku yang tidak bisa lepas darinya.
***
Aku sudah kembali ke Jakarta. Satu bulan sudah setelah kepulanganku dari Teluk Tamiyang. Kembali menjalani kehidupanku yang dulu. Setiap pagi aku terbangun dan menyibak tirai jendela kamarku, mengamati subuh. Tidak ada ketenangan yang sama ku lihat seperti di Teluk Tamiyang. Tetapi aku tetap tidak bisa mengusir Nata dari pikiranku. ‘Namaku Nata,’ kalimat itu terus terulang-ulang dipikiranku.
Aku masyarakat kota yang tidak percaya pada mitos. Ini tentang seorang gadis yang tidak berhenti berputar-putar di kepalaku. Aku harus menemuinya lagi. Dan membuktikan bahwa ia bukan gaib.
Hari itu aku memesan tiket penerbangan ke Bandara Syamsudin Noor. Langsung tanpa perlu transit di Bandara Juanda. Selama perjalanan jantungku berdetak dengan liar, mengantisipasi pertemuanku dengan Nata.
***
Aku menginap di tempat yang sama. Aku tidak bisa tidur dan mataku terjaga sepanjang malam. Ketika aku melihat jam dinding, waktu sudah menunjukkan subuh. Aku mengambil air wudhu dan sholat subuh. Seusai sholat aku menoleh ke luar jendela kamar, sudah tidak terlalu gelap. Tetapi aku melihat kabut yang cukup tebal seperti menyelimuti Teluk Tamiyang.
Setiap hari ia ke pantai, bisikku di dalam hati.
Lalu aku melangkahkan kaki keluar. Mengulangi kejadian sebulan yang lalu.
Pantai diselimuti kabut tebal. Semburat kemerahan hanya remang-remang di ujung langit. Udara juga lebih dingin dan anehnya tidak ada angin yang bertiup dari arah laut. Hening, sepi, dan sunyi. Jika aku tidak sedang mencari seseorang mungkin aku tidak akan segelisah ini.
Aku berjalan sepanjang garis pantai. Mataku tidak mendapati sosok Nata di manapun. Selain suara detak jantungku yang keras, aku hanya bisa mendengar irama gerakan ombak yang menghempas-hempas di tepi pantai. Tidak ada suara lain.
Tiba-tiba. . .Tanganku yang bebas digenggam oleh tangan dingin yang mungil. Aku menoleh dan mendapati senyum hangat di wajah Nata.
“Selamat pagi, Rifki!” sapanya ceria. Dulu ia datang dari pantai, muncul bagai putri duyung. Sekarang ia seolah keluar dari kabut, tanpa tanda-tanda apapun. Begitu saja. Tanpa aku sadari aku sudah terhipnotis sangat dalam pada senyumannya.
***
Kemal belum pernah ke rumah sakit jiwa sebelumnya. Ternyata rumah sakit jiwa tidak ada bedanya dengan rumah sakit biasa. Bau khas rumah sakit tetap menyerang indera penciumannya pertama kali menjejakkan kaki di tempat ini. Selain itu dominasi warna putih dimana-mana dan kesan dingin membuatnya bergidik ngeri.
Hari ini ia mengunjungi rekannya, Rifki. Ia tidak tahu apa yang terjadi kepada Rifki. Seingatnya Rifki sangat waras. Ia bahkan tidak tahu kalau Rifki kembali ke Teluk Tamiyang tiga bulan yang lalu. Amel, adik kandung Rifki bercerita kepadanya bahwa ia menjemput pulang Rifki dari Teluk Tamiyang. Kepala desa di sana menelponnya dan mengatakan Rifki sakit dan tidak bisa pulang sendiri.
Kepala desa Teluk Tamiyang mengatakan bahwa Rifki sudah hilang selama seminggu. Beberapa desas-desus beredar bahwa Rifki dibawa ke Saranjana dan tidak akan bisa kembali lagi. Petugas penginapan bahkan sudah membereskan barang-barangnya. Tetapi kemudian ketika magrib, Rifki datang dengan linglung menuju penginapan. Ia mengenakan baju putih, terlihat terawat tidak seperti orang hilang. Hanya saja pikirannya kosong.
Amel membawanya pulang. Rifki tidak berbicara apa-apa. Selama tiga hari ia hanya diam bisu. Lalu di hari keempat kata pertama yang diucapkannya adalah nama seseorang, Nata. Hari berikutnya Rifki selalu mencari Nata ke setiap sudut rumah, menakuti keluarganya dengan tingkah anehnya. Sebulan kemudian Rifki dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Seperti yang telah diduga Kemal sebelumnya, Nata adalah seorang Putri Bunian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *