Browse By

Prospek Sarjana Ekonomi

Taken from didikpurwanto.blogspot.com


 Berbicara tentang pendidikan, lebih-lebih pendidikan tinggi sama artinya dengan berbicara tentang membangun peradaban bangsa. Pendidikan tinggi mengemban misi sebagai transformasi sosial, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan juga seharusnya termasuk membangun watak serta karakter bangsa.
Posisi perguran tinggi yang sedemikian mulia dan strategis itu merefleksikan pada tingkat peradaban bangsa yang bersangkutan. Suatu bangsa menjadi maju sejalan dan seiring dengan kemajuan perguruan tingginya. Hampir tidak pernah ada di dunia ini negara maju yang tidak memiliki perguruan tinggi maju. Perguruan tinggi maju selalu menghasilkan kemajuan bangsa di mana perguruan tinggi itu berada.
Banyak orang berpendapat bahwa lulusan yang menyandang gelar sarjana ekonomi itu susah mendapatkan pekerjaan. Karena minimnya lapangan kerja di Indonesia sehingga tidak sedikit seorang sarjana yang mengobral ijazahnya dengan bekerja asal-asalan atau tidak sesuai dengan background pendidikannya.

Contohnya seorang lulusan Fakultas Ekonomi bekerja sebagai tukang becak atau supir angkutan umum antar kota. Apakah profesi seperti itu pantas untuk seorang sarjana? Tapi daripada nganggur lebih baik kerja apa adanya yang penting halal. Jika sudah begini, mau dibawa ke mana ilmu-ilmu yang telah di dapatkan dalam kelas waktu masih duduk di bangku kuliah dulu.
Kerap kali mahasiswa ekonomi dianggap sebagai calon pengangguran. Ada sebagian orang tua yang tidak mengizinkan anaknya untuk melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi karena alasan takut masa depannya tidak jelas.
Saat ini dunia Pendidikan Tinggi telah dihadapkan pada beberapa permasalahan penting dan mendesak untuk diselesaikan, yakni menyangkut 3 (tiga) isu pokok, yaitu: (i) Daya saing bangsa dalam menghadapi era globalisasi, tuntutan kualitas penelitian dan pendidikan, diferensiasi visi dan misi Perguruan Tinggi, serta akses pengetahuan; (ii) Otonomi perguruan tinggi dengan melakukan perencanaan program pengembangan, peningkatan sumberdaya, penggalangan sumber dana secara akuntabel, serta peningkatan tanggung jawab sosial; dan (iii) Kesehatan organisasi yang didukung oleh kapasitas institusi, tata kerja Perguruan Tinggi, sumber daya keuangan dan sumber daya manusia yang terukur melalui Sistem Penjaminan Mutu.
Sebenarnya faktor utama yang menyebabkan rendah atau tingginya kualitas lulusan itu berasal dari pola pikir mahasiswa itu sendiri.
Ada sebagian orang memiliki gelar sarjananya saja tanpa ilmu. Biasanya gelar ini didapatkan dengan cara membeli ijazah secara ilegal diperguruan tinggi yang sengaja menjual produk terlarang ini demi mendapatkan uang, uang, dan uang. Semuanya demi uang tanpa memperhatikan dampaknya terhadap Negara tercinta ini.
Gelar akademik itu sudah seperti sebuah produk yang mudah didapatkan dengan harga yang terjangkau. Hanya bermodal beberapa juta rupiah saja sudah bisa memiliki gelar sarjana. Tapi kualitasnyapun berbeda sangat jauh dengan seorang sarjana yang telah menjalani kuliah selama bertahun-tahun menguras keringat, waktu, dan uang.
Perguruan tinggi yang menjual gelar akademik merupakan salah satu penyebab rusaknya citra pendidikan di Indonesia. Banyak orang yang punya title sarjana hanya sebagai gengsi untuk menduduki posisi jabatan tertinggi dalam sebuah lembaga atau instansi. Padahal orang tersebut tidak memiliki pengetahuan dibidangnya, sehingga menjadikan sumber daya manusia Indonesia dinilai oleh Negara lain sangat rendah kualitasnya.
Coba Anda tanyakan kepada mereka siapakah Adam Smith? Bagaimana bunyi hukum penawaran dan hukum permintaan? Jika dia seorang sarjana ekonomi Saya yakin dia pasti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling dasar dalam ilmu ekonomi. Tapi jika dia tidak bisa menjawab, kemungkinan ada yang tidak beres dengan title kesarjanaannya.
Zaman sekarang siapa yang memiliki banyak uang dialah yang akan berkuasa dan bisa membeli apa saja termasuk membeli hukum, ijazah ilegal, dan lain sebagainya.
Sedangkan orang yang hanya memiliki ilmu tanpa harta yang melimpah akan menjadi seperti tidak berarti. Karena semuanya sudah dikuasai oleh harta, dengan kata lain harta adalah segala-galanya.
Negara kita telah dijajah oleh bangsanya sendiri, seperti iklan di televisi “Jeruk kok makan jeruk”. Ini telah dibuktikan oleh kasus-kasus yang sudah terjadi selama beberapa tahun yang lalu hingga sekarang. Korupsi merupakan salah satu dari banyak peristiwa yang melanda Negeri ini. Tidak hanya dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah tetapi aparat hukum yang seharusnya melaksanakan dan menegakkan hukum untuk keadilan Negeri ini telah terlibat dalam kasus yang semakin menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sekarang coba kita lihat rakyat miskin yang seharusnya mendapatkan perhatian oleh pemerintah menjadi terabaikan karena pemerintah terlalu sibuk mengurus untuk mengusut tuntas kasus-kasus seperti diatas.
Bagaimana caranya agar bangsa ini menjadi lebih maju terutama di sektor perekonomiannya agar ada pemerataan bukan hanya mengejar berapa persen meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Sebenarnya orang-orang ekonomilah yang berperan penting dalam membantu pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya dan memberantas kemiskinan. Dengan begitu maka otomatis pertumbuhan ekonomi akan meningkat.
Dan mahasiswa ekonomi bukanlah sebagai calon pengangguran tetapi lebih tepatnya adalah sebagai alat untuk menyerap dan mengkompres angka pengangguran yang membengkak tiap tahunnya.
Sebagai orang yang mengerti permasalahan-permasalahan ekonomi yang sedang dihadapi bangsa ini kita harusnya berfikir bagaimana caranya agar kemiskinan bisa dihapuskan, minimal bisa dikurangi 95%.
Tapi sayangnya kebanyakan mahasiswa ekonomi dan lulusan dari fakultas ekonomi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia hanya mengharapkan dirinya untuk dipekerjakan oleh orang lain.
Lulusan ekonomi seharusnya tidak berfikir untuk mengharapkan pendapatannya dari gaji kerja kerasnya kepada pihak lain tetapi bagaimana caranya agar bisa memberikan gaji kepada orang lain. Dengan kata lain mempekerjakan orang-orang yang masih belum punya pekerjaan/pengangguran diperusahaan kita sendiri dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya.(*)

oleh Muhammad Rusdiansyah – Alumni LPM Jurnal Kampus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *