Browse By

PUISI : Prolog


Taken from ungunyadani.blogspot.com

Prolog
Oleh Ida Muliyati
Ketika menulis menjadi nadi-nadiku. . .
Kata-kata itu, yang bermain hanya di dalam kebisuan pikiran, 
merayap-rayap di dinding sunyi
Berbisik seolah berkata, “Tulislah aku, tulislah aku.”
Mantra apa yang merasukiku?
Entah.. Siapa yang peduli?
Naskah hanyalah fiksi
Semu dan tidak berarti

Lalu, ketika aku membukanya lagi..
Seratus tahun di masa depan
Aku teringat lagi, racun kecanduan yang membuatku mati. . .
Sayup-sayup,
Di belakangku,
Di balik sesuatu yang tidak terjamah…
Bisikannya terdengar lagi, bak angin yang menampar kesadaran
Fiksikah?
Nyatakah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *