Browse By

Brilliant Concept

Taken from mrmedoos3170.blogspot.com
oleh Auzan Nur Mahdi – Anggota Bidang Produksi LPM Jurnal Kampus
 
JKT48.
Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar nama JKT48?. Berdasarkan pengamatan saya, masyarakat akan menyebut “Girlband”, “Idola remaja sekarang”, sampai yang paling parah “Kumpulan para gadis yang hanya menjual tampang”.
            Namun sebelum menjawabnya, biar saya jelaskan apa itu JKT48. JKT48 adalah sebuah idol group yang dibentuk pada tahun 2011 oleh “Bos Besar AKB48” Yasushi Akimoto atau biasa disebut Aki-P. JKT48 yang juga merupakan saudari AKB48 memiliki konsep “Idola yang dapat ditemui setiap hari” di suatu panggung yang dinamakan theater.
            Di Indonesia sendiri, konsep tersebut bisa dikatakan belum pernah diadopsi oleh para entertainer, baik selebriti, grup band, atau bahkan boyband dan girlband.

            Disinilah kejelian seorang Aki-P dalam melihat peluang, dimana di Jepang saat AKB48 dibentuk, memang telah ada konsep idol group, namun beliau menyempurnakan konsep tersebut dengan menambahkan banyak gimmick yang sangat disukai oleh fans-fansnya. Beberapa di antaranya, yaitu fans bisa meliat penampilan idola mereka setiap hari, membolehkan fans memvote siapa saja yang bernyanyi dalam sebuah single, sampai sebuah handshake event, dimana fans boleh bersalaman dengan anggota dari idol group yang paling mereka sukai.
            Kemudian berbeda dengan idola kebanyakan, anggota dari JKT48 kasarnya bisa dikatakan sebuah produk “belum jadi” yang diorbitkan sebagai artis. Maksudnya yaitu JKT48 sendiri berfungsi layaknya sebuah akademi atau sekolah tempat mereka menimba ilmu. Dari yang belum bisa bernyanyi sampai bisa bernyanyi. Dari yang kaku dalam menari, sampai mahir dalam menari, dan lain lain.
            Dan JKT48 sebagai saudari AKB48 juga sudah mendapat penyesuaian budaya yang cukup signifikan dibanding saudari tuanya. Selain membawakan lagu terjemahan dari AKB48, Outfit yang mereka pakai juga tidak terlalu terbuka seperti saudarinya.
            JKT48 itu konsepnya menjual proses anggotanya dalam mencapai kesuksesan. Dan perjuangan mereka tentunya layak mendapat apresiasi dari penikmat musik sampai masyarakat pada umumnya. Mereka tidak kenal lelah, berlatih setiap hari kemudian perform di hadapan fans-fans mereka yang rela mengantri panjang demi bisa menonton pertunjukan.
            Bagaimanapun JKT48 adalah fenomena. Mereka bisa membuat fans –yang kebanyakan laki-laki- histeris melihat mereka. Dari anak SD sampai orang yang sudah bekerja pun berteriak meneriakkan nama mereka tanpa henti. Faktanya, itu bisa dilihat di acara-acara musik yang ditayangkan di stasiun televisi swasta maupun di theater mereka yang berjubel dengan kerumunan manusia.
            Bagaimana mereka bisa sepopuler itu? Itu kembali lagi ke konsep kedua yang dibuat oleh Aki-P, yaitu menjual imajinasi. Suka atau tidak, baik sadar maupun tidak, hal itu memang benar. Dengan menyeleksi gadis-gadis cantik di seluruh penjuru tempat, beliau menampilkan gimmick lain berupa penjualan foto anggota dari AKB48 maupun JKT48 yang diluar dugaan, laku keras seperti kacang goreng. Internet sudah membuktikan. Di kaskus, facebook, juga twitter terlihat para fans yang membeli ataupun trade foto anggota JKT48 antar fans. Dan harga yang ditawarkan juga tidak murah, paling mahal bahkan mencapai Rp 300 ribu untuk satu set foto.
            Kembali kejeniusan Aki-P dalam hal pemasaran berperan disini. Beliau menyasar segmen fans fanatik. Seperti anda tau sendiri, seorang fans fanatik rela membuang uangnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka rela antri, panas-panasan dan hal gila lainnya demi satu hal. Kepuasan.
            Imajinasi fans itulah yang ditujukan oleh beliau. Fans pun sampai berpikir anggota JKT48 adalah pacar mereka lah, pasangan hidup mereka lah, sampai hal yang kadang-kadang berbau porno.
            Christopher Lasch, seorang sejarawan dan kritikus sosial mengatakan dalam bukunya  The Culture of Narcissism, tentang konsumerisme yang bersifat imajinasi pada hal tertentu. Anda bisa cek di google. Aki-P membaca buku tersebut? Who Knows.
            Selain sebuah fenomena, JKT48 juga bisa disebut sebuah ketidakwajaran dalam belantika –ah ini bahasa tahun 90an- musik Indonesia. Bisa mengadakan konser tunggal saat belum memiliki satu pun album?  Memiliki tempat pertunjukan sendiri saat baru saja berdiri? Membuat para pencinta Metal menyukai mereka? Hanya JKT48 yang bisa.
            Bahkan musisi sekelas Peterpan –sekarang NOAH- saja dulu baru bisa mengadakan konser tunggal saat sudah memiliki 2 album, kalau saya tidak salah ingat. Karena secara teori, konser tunggal bisa diadakan ketika seseorang sudah mempunyai massa.
            Dengan menjual dua konsep utama tersebut, Aki-P mungkin sekarang sudah berkipas uang di meja kerjanya karena pemikirannya yang matang. Benar-benar sebuah konsep yang brilian. [azn]
           

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *