Browse By

PESAN TERAKHIR

“Undangan siapa ini yah?” aku penasaran dengan undangan yang di berikan ayah.
“Buka saja, kau akan tahu apa isinya.” Jawab ayah dengan muka penuh rona bahagia

       Aku terperangah, berulang-ulang membaca nama calon pengantin pria, Ir. Ramdani, ku harap hanya namanya yang sama dengan ayah, mataku meneruskan membaca calon pengantin perempuan yang bernama Irma, hanya satu orang yang ku kenal, yaitu tante irma apakah tante irma yang ku kenal sahabat terbaik ibu tersebut? Tapi tunggu tante irma akan menikah dengan A……yah?
Aku diam seribu bahasa, melihat aku hanya diam ayah membuka suaranya, itu benar ayah memulai pembicaraan, ayah akan menikah dengan tante irma, ayah seakan tahu seribu tanda tanya yang ada di kepalaku, mendengar jawaban ayah dunia seakan runtuh, aku ingin berontak kenapa yah? Ibu baru saja meninggalkan kita satu bulan yang lalu, kenapa begitu tiba-tiba ayah ingin menikah? Dengan tante irma lagi sahabat ibu, tetapi hal itu tidak aku lakukan, aku berlari ke kamar, aku menatap ke luar jendela memandang langit, langit yang tadinya mengharu biru kini berubah menjadi kelabu, seakan mewakili perasaanku saat ini.
      Aku memutuskan untuk pergi dari rumah, sudah ku bulatkan tekad untuk pergi ke kampung halaman ibu di kandangan, pagi-pagi buta aku berangkat dari banjarmasin menuju kandangan tentu saja tanpa sepengetahuan ayah, aku naik taksi,selama di taksi nostalgia ayah dan ibu kembali terbayang di ingatanku, yahh satu tahun sekali ayah,ibu, dan aku pulang ke kampung halaman ibu di kandangan selama di perjalanan aku selalu tertidur entah itu di pangkuan ayah atau ibu.
  Tapi kini semua sudah berubah, ibu sudah tiada karena kanker payudara yang menggerogotinya,dan ayah sebentar lagi akan menikah dengan sahabat ibu sendiri,tante irma. Kenapa harus dia yah orangnya? Kenapa bukan yang lain,kenapa ayah yang kukira awalnya begitu setia kepada ibu, begitu cepat melupakannya,aku kira ayah tidak akan menikah lagi setelah ibu tiada.
   Masih terbayang di ingatanku ayah selalu di sisi ibu ketika ibu sakit, ibu menolak untuk operasi, bagi ibu Allah swt sudah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya sehingga kita harus menjaganya hingga akhir hayat,ibu mau kembali ke hadapan-Nya dengan organ tubuh yang sempurna.
  Ibu hanya meminum obat-obatan herbal seperti daun sirsak,aku masih ingat betul ayah tiap pagi meminta daun sirsak ke tetangga sebelah rumah,ayah sendiri yang merebuskan daun sirsak tersebut untuk ibu,ibu sangat sabar menghadapi penyakitnya dan ibu semakin dekat dengan Allah swt,mungkin hikmah sakit yang di derita ibu, Allah ingin ibu semakin dekat dengannya, sholat wajib tidak pernah lalai dan setiap subuh ibu selalu mengusahakan pergi ke langgar di dekat rumah,  sholat dhuha 12 rakaat janji Allah bagi yang melaksanakan sholat dhuha 12 rakaat ganjarannya di buatkan rumah di surga. Amiin ya rabbal alamin . dan tak lupa ibu setiap pukul empat selalu bangun untuk melaksanakan sholat malam, ibu terus beribadah sampai waktu subuh tiba,ibu tidak tidur lagi.
   Bahagia rasanya melihat ibu begitu dekat dengan sang pemilik-Nya, ibu juga selalu menasehatiku agar tak lupa sholat 5 waktu,sholat dhuha,dan sholat malam,sejak ibu tiada aku selalu melaksanakannya agar ibu mendapat amal jariyah .
“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang berdoa kepadanya.” (HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan amal perbuatan seorang Muslim akan terputus ketika ia meninggal dunia, sehingga ia tidak bisa lagi mendapatkan pahala. Namun, ada tiga hal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh.


  Tidak terasa perjalanan telah sampai membawakuke tempat kelahiran ibu, hal pertama yang aku lakukan adalah ke makam ibu, sampai di sana alangkah terkejutnya aku karena melihat seseorang yang ku kenal yaitu tante irma, aku pun memutuskan membalik badan aku tidak mau bertemu dengan orang yang mengkhianati ibu,untuk apa tante irma kemari? mau minta ijin karena mau kawin dengan ayahku?gumamku dalam hati.
   Tiba-tiba aku dengar dari belakang ada yang memanggiku, Nadya! Nadya! Aku tahu suara itu milik siapa,aku tidak menghiraukan sama sekali,jangankan menghiraukannya menoleh ke belakang pun tidak kulakukan. Aku berlari sekencang-kencangnya tiba tiba dari belakang terdengar suara tabrakan,aku berhenti seketika dan menoleh ke belakang dan benar dugaanku tante irma di tabrak oleh sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, tante irma pasti tidak melihat mobil tersebut karena berlari mengejarku.
   Kuhampiri tanpa ragu kulihat tante irma bersimpah darah,aku pun mendekat dan dia mengambil sesuatu dari kantongnya dan meyerahkannya kepadaku,
 ini apa tante?
Belum sempat tante menjawab pertanyaanku, dia sudah tak sadarkan diri, aku bersama pelaku penabrak mobil tersebut membawa tante irma ke rumah sakit,  begitu sampai di rumah sakit pelaku berbicara kepadaku, mba biar saya yang akan menanggung seluruh biaya rumah sakit sampai sembuh.
  Aku hanya mengangguk, memang begitu seharusnya,dan sebenarnya aku yang bersalah tante irma mengejarku hingga ia harus mengalami hal seperti ini. Teringat surat yang di berikan tante irma aku langsung membukanya, aku begitu mengenali tulisan ini seperti tulisan….
Irma, sahabatku
Masih ingatkah engkau saat aku,engkau dan suamiku pergi umroh bersama, saat sedang tawaf engkau di dera kelelahan yang luar biasa, di saat itulah aku mengiklaskan engkau untuk berpegangan pada suamiku, saat itu aku sadar kau butuh pendamping,butuh pelindung, dan saat itu juga aku sadar waktuku mungkin tidak lama lagi,aku mohon kepadamu kabulkan permintaan terakhirku tolong jaga suami dan anakku nadya,aku akan tenang kalau ada yang menjaga mereka,aku percaya padamu kau pasti bisa menjaga dan merawat anakku. Tolong Irma kabulkan permintaanku jagalah suami dan anakku tetaplah di sisinya sampai akhir hayatmu.
Salam sahabat terbaikmu

Dewi
Aku menangis dan aku langsung berlari ke ruangan tante irma, kulihat ayah sudah ada di sana, ku dengar tante irma bercakap cakap dengan ayah,“kita tunggu sampai nadya siap ya mas”, aku pun membuka pintu kamar tante irma, “aku sudah siap tante”. Ayah dan tante irma terkejut dan ayah langsung menghampiri apa katamu nadya?”“coba kau ulangi”, “Aku siap Ayah, tante Irma menjadi ibuku kataku mantap.” Ayah pun langsung memelukku dan ku lihat tante irma langsung menangis, tentu saja bukan tangisan duka tetapi tangisan bahagia, ku lihat langit begitu  cerah seakan mendukung dengan jawabanku.

Oleh : Nadya Septerini – S1,Akuntansi 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *