Browse By

RUPIAH TIBA

Di tengah malam, tepat malam jum’at kliwon bulan purnama, saat Dika tertidur dengan pulasnya, tiba-tiba ada suara teriakan dari depan pintu, pintu itu terus di ketuk, antara mendengar atau tidak, sebagian malah dikira mimpi, Dika pun tertidur kembali. Tapi bunyi ketukan itu semakin keras “Malah Kebangun jam segini, kayak ada yang ngetok, iya bentar”.
Dika perlahan melangkahkan kakinya ke depan pintu, ketukan itu terdengar semakin jelas, siapa coba yang bertamu tengah malam begini, berharap itu bukan Nyi Blorong yang kebetulan kangen. Dika sangat berkeringat, diambilnya raket nyamuk untuk berjaga-jaga. Perlahan tapi pasti, ia buka pintunya, tapi ketika di buka, Dika menautkan kedua alisnya. ‘kok tidak ada orang, sudahlah, mungkin hanya halusinasiku saja’ pikirnya sambil menutup pintu.
“Mas Dika! Saya buka ya”teriakan itu terdengar jelas, membuat lelaki muda ini bergidik ngeri. ‘kriiiikkkk’ pintu itu terbuka sendiri, terlihat seorang lelaki berambut jabrik, apakah itu suaminya Nyi Blorong? Ah tidak mungkin, mana tahu dia dengan Dika. Pintu itu semakin terbuka lebar.Dengan minimnya pencahayaan, Ia mencoba menyipitkan matanya kembali. Seperti kenal dengan orang ini.
“Waduh? kok belum tidur, mas? Nda takut sama setan yang lagi cuti ya?” orang ini, ternyata sepupunya Dika, apa dia akan tinggal disini juga, pasti nenek yang menyuruh nih, ada-ada saja. “Kau! Beraninya kau menakutiku Rupi, tadi kau dimana!!” teriak Dika geram. “saya di pojok dekat tempat sampah mas.” Menunjuk ke luar pintu. “Kamu habis dibuang?”
==0o0==
Setelah saya datang ke kontrakkannya mas Dika, sofanya empuk banget, kamarnya luas, kasurnya tinggi, ada TV gedenya, ada ACnya, ada lotengnya, dapurnya pake kompor gas, mejanya banyak, ada juga komputer canggih, bisa di bawa kemana-mana, keren. Oh iya, orang biasanya manggil saya Rupi, saya ini baru datang dari kampung, sebuah desa terpencil di Jawa Timur, di rumah saya itu nda ada yang namanya listrik, ternyata listrik itu terang ya. Saya tengah malam ke sini, karena pesawatnya juga, katanya sih lalay, Mas Dika malah nyalahin saya terus. kebetulan nenek akan menanggung kehidupan saya untuk kuliah di Banjarmasin, tapi saya belum mengerti apa itu kehidupan kota, kata Mas Dika, dijalanin saja, nanti terbiasa. Terus kenapa Mas Dika suka manggil saya udik ya, udik itu apa sih, mungkin merantau, ya saya memang merantau.
Besoknya, ketika pagi datang menjelang dengan sinarnya yang berwarna keemasan. kebetulan hari minggu, saya melihat ada sepeda motor dan mobil didepan kontrakannya Mas Dika, Mas Dika Canggih ya. Kebetulan di kampung dulu, saya dipaksa nenek untuk belajar naik sepeda motor beberapa hari yang lalu. Saya ijin saja dengan Mas Dika, MasDika bolehin saya. Kebetulan Mas Dika pagi ini juga lari pagi. Saya pakai saja buat keliling komplek. Nda lupa saya bawa peta seperti Dora. Biar nda tersesat.
Pulangnya Mas Dika tanya “eh, tadi lo habis nabrak pohon ya?” Mas Dikasepertinya sudah tahu kalau saya jatuh tadi pagi, saya iya kan saja “kok bisa?” Mas Dika penasaran. “itu mas, udah saya klaksonin nda mau minggir juga tuh pohon, kenapa ya mas?”.
==0o0==
Ribet nih, Masa nenek nitipin si udik buat gue, tapi ngga apa-apa lah kalo buat bantu gue beresin rumah. Nama gue itu Dika, lengkapnya Andika Wijaya, kebetulan gue hari ini gajian, sebagai orang yang baik biar di sayang nenek, gue traktir aja Rupi buat makan siang di luar. “Rupi, gue baru gajian nih, makan di luar yuk!” ajak gue. “yuk mas, bentar ya mas, saya mau siap-siap dulu”.
Gue tungguin aja Rupi, sudah 5 menit nih, kayak cewek saja, dandannya lama banget. Pas gue berdiri mau ke kamarnya, dia sudah keluar “loh, ngapain lo bawa-bawa piring?” gue natap dia heran. “kata mas kan makan di luar !” sahutnya. “Rupi!, kita makannya itu di depot, tempat makan, ayo!” gue ambil aja piringnya, gue letakin di atas lemari. “tapi mas, kalau di sana nda ada piring dengan sendoknya kan gawat mas!”
==0o0==
Malam ini Mas Dika sepertinya sibuk di depan komputer tipisnya. Sebelumnya Mas Dikamemberikan kertas untuk menulis biodata tentang saya, katanya buat Pak RT dan mengurus kuliah, saya sudah selesai mengisinya. Tapi, melihat Mas Dika sibuk, saya diam saja lihatin dia. “hei Rupi, sudah ya ngisinya? Sini gue lihat!” Mas ternyata menyadari keberadaan saya.
Saya tanyain saja Mas Dika tentang komputer tipis yang bisa di bawa kemana-mana itu, kata mas, itu namanya laptop, buat kerjain tugasnya yang di kampus dan yang di kantor. Setelah saya angkat, ringan banget daripada komputer yang saya temukan di rumah nenek, canggih ya.
“Hah Rupiah? Itu nominal uang kan, lu salah tulis nih, hapus, hapus!” kata Mas Dika tiba-tiba. “Jangan Mas, itu nama saya mas, jangan di hapus, mas pasti mau nanya kenapa ya? Saya juga nda tahu mas, tapi kata mama saya, itu karena mama saya dulu suka megang duit mas, pas saya lahir, katanya biar saya jadi orang kaya mas, dimurahkan rupiah”
“oh, Ru-pi-ah itu nama lengkap lu, dimurahkan rupiah? Rupiah sekarang naik lagi Rupi, 1 dollar itu sekarang menjadi 11.250 rupiah, apanya yang murah, makin nyusut dengan uang dunia tahu!” ujar Mas Dika. “bukan begitu mas, maksud saya, dimurahkan rejeki, nda ada hubungannya dengan solar” tutur saya. “Bukan solar Rupi, tapi uang luar negeri! dollar! dollar!!” teriak Mas Dika. “oh, saya kira uang luar Indonesia itu solar mas” saya baru tahu. “siapa yang bilang begitu” sahut mas. “saya mas, mas dengar kan tadi?”.
==0o0==
Malam ini adik gue kebetulan sms gue ‘ka, jwb ya, kenapa kita perlu mengetahui arah mata angin?’. Kebetulan otak gue sudah lelah banget, gue nanya aja ke Rupi, tumben tu anak serius banget baca Novel. Ya sudah gue ganggu saja. Setelah gue tanyain. Rupi jawab “karena kita perlu mengetahui arah mata angin” wah si udik pintar juga. Gue tanya lagi apa itu benar, dia hanya bilang iya.
Tidak lama setelah gue balas sms adik gue, adik gue nelpon. Ah, pasti mau berterima kasih dan bilang ‘kakakku pintar dan keren banget’ dan pasti nenek semakin bangga denganku. Kuangkat telepon adikku. Tapi, kenapa dia malah marah-marah, dasar adik yang tidak tahu terima kasih. Gue tutup saja teleponnya.
“Mas, kenapa Mas?” tanya Rupi. “tahu tuh, mungkin bunga sebelum tidur, gue tidur dulu ya” gue perlahan menutup mata. “Bunga tidur itu seperti apa mas, warnanya merah ya? Besok tunjukin ke saya ya mas!”. Ya Tuhan, Kalau bukan karena nenek, orang ini pasti sudah……..

Oleh :Rizki Amaliah– Manajemen Internasional 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *