Browse By

[POLITIK] SATU KESEMPATAN UNTUK BERUBAH

Foto diambil dari : ib.ayobai.org
Pembahasan politik sebenarnya bukan keahlian saya dan bukan topik favorit. Tetapi saya tergerak untuk membuat posting ini sekedar untuk menggunakan kebebasan berpendapat. 
Pada sebuah media online di Indonesia saya membaca, hingga bulan September 2013 utang pemerintah Indonesia mencapai Rp 2.273,76 trilliun.  Naik Rp 95,81 trilliun dari bulan Agustus 2013. Kalau saya tulis dengan benar maka angka nolnya sangat banyak sampai Anda akan bingung untuk membacanya. Sejak dulu saya tahu Indonesia memiliki utang luar negeri yang besar tapi saya tidak tahu jumlah pastinya sampai beberapa waktu lalu. Orang tua saya hanya pernah bilang bahwa setiap bayi yang lahir akan menanggung hutang negara sejumlah rupiah. Anggaplah penduduk Indonesia berjumlah 250 juta jiwa. Dengan hutang sejumlah Rp 2.273,76 trilliun maka setiap orang menanggung hutang Rp 9 juta rupiah. 
Dan perlu Anda ketahui, utang jangka panjang memiliki bunga. Logikanya tidak ada kreditur yang mau memberi utang tanpa timbal balik berupa bunga. Bayangkan berapa bunga dari utang berjumlah ribuan trilliun rupiah itu. Lalu ingatlah nilai rupiah yang terpuruk membuat nilai utang negara semakin meningkat. 

Pendapatan Indonesia tahun 2013 Rp 1.507,7 T yang sebagian besar dari sektor pajak Rp 1.031,7 T. Kemudian RAPBN 2013 sejumlah Rp 1.657,9 T. Rencana belanjanya aja lebih besar dari pendapatan. Kemudian dari mana menutupi defisit itu? Tentu saja dari hutang. Bahasa sederhananya gali lobang tutup lobang. Surplus aja gak, bagaimana bayar hutang? 
Jujur saja saya merasa negara kita ini tergadaikan. Posisinya lemah di pandangan negara lain. Lihat saja kasus penyadapan Australia. Negara kita punya hutang Rp 14,87 T ke Australia dan ada beberapa kerjasama bilateral dalam bidang ekonomi dengan mereka yang apabila dihentikan akan menyebabkan kerugian besar. Itu yang saya sebut sebagai kehilangan kharisma. Dan menyebabkan desakan ke Australia yang menurut saya tidak terlalu keras. Kenapa ultimatum DPR dan pihak lain lebih keras dari pemerintah sendiri di media? Karena mereka merasa tidak memiliki kerugian jika melakukan itu. 
Lalu kenapa saya memaparkan data-data di atas? Supaya Anda sadar bahwa negara kita terlalu kasian kalau tidak dipedulikan oleh warga negaranya sendiri. 

Sadar atau tidak, warga negara Indonesia telah meremehkan negaranya sendiri. Sinis terhadap negaranya sendiri. Waktu timnas U-19 menang aja baru bilang “Bangga jadi orang Indonesia” waktu ada kasus korupsi gak bilang gitu. Mencar-mencar kemana-mana, hujat sana hujat sini, salahkan macam-macam lembaga asal bukan diri sendiri. Sadar gak sih mereka-mereka yang korupsi itu pilihan kita sendiri? (Bukan pilihan saya karena pemili sebelumnya saya belum cukup umur)

“Ah ya seperti itulah Indonesia”

“Orang Indonesia itu gak bisa bla bla bla bla…” padahal dia yang ngomong orang Indonesia juga

“Indonesia, apasih yang bisa diharapkan. Bisa makan minum tidur aja udah syukur”

“Tenaga kerja Indonesia itu pemalas. bla bla bla..” memang sih. Tapi punya solusi?
Ada beberapa dari kita yang sudah benar-benar kehilangan kepercayaan dan menumbuhkan rasa pesimis begitu besar terhadap negara sendiri. Lihat aja angka pemilih golput pemilu presiden tahun 2009 yang berjumlah 29%. Saya hampir seperti itu. Jujur saja saya bahkan sudah berencana untuk tidak ikut memilih wakil rakyat dan hanya ikut pemilu presiden tahun 2014 nanti. 
Beberapa jam lalu saya membaca postingan yang mengunggulkan salah satu calon presiden dari salah satu partai, yang kemudian saya share di fb. Bukan saya mengunggulkan calon tersebut. Saya sudah punya calon pilihan saya sendiri dan punya kemungkinan besar untuk berubah tergantung siapa yang benar-benar menjadi calon presiden. Kembali kepada postingan yang saya baca itu, ada suatu pertanyaan disana :
Lagipula, perhitungan RAPBN 2014 sudah mencapai Rp 1.800 TRILIUN.
Apakah anda rela uang yang harusnya dijadikan pemicu pembangunan dan kemajuan negara dipegang oleh orang yang anda tidak percaya?

Kalau saya sih jelas tidak akan percaya. Sudah defisit, dikorupsi pula. Pertanyaan itu menggerakkan saya. Ternyata saya tidak boleh acuh, saya tidak boleh lepas tangan dan saya sebenarnya juga memiliki andil kalau Indonesia terpuruk. 
Kenapa dulu Lo gak menggunakan hak suara? Coba aja ikut memilih gak akan kaya gini negara kita. Emang rela uang pajak yang rutin Lo bayar dikorupsi untuk kepentingan pribadi. Padahal Lo punya hak suara yang bisa mengubah hal tersebut. 
Daripada sinis sana-sini, sebaiknya cari tahu siapa presiden 2014 yang tepat.  Kalau mau golput diam-diam aja, jangan ngajakin orang. Kalau nanti pemerintahannya korup dan gak beres, diam aja. Siapa suruh gak milih. 
Hak suara menurut saya adalah “satu kesempatan untuk berubah” Jadi gunakan sebaik-baiknya, gunakan dengan bijak, gunakan dengan benar. 
Cerita ini dari pemilu tahun 2009, bukan pemilu presiden tapi pemilu legislatif. Bohong kalau gak pakai politik uang minimal sembako. Saat itu saya kelas satu SMK. Di lingkungan saya beberapa calon memberikan sembako dengan dalih kepedulian. Kalau peduli kenapa bagi sembako pas mau calon aja? Kemudian satu hari sebelum pemilihan, ada uang yang diberikan. Bahkan masyarakat mencari calon yang mau memberi mereka uang! Silahkan datangi daerah-daerah yang memilki kesadaran politik rendah kalau tidak percaya. 
Dengan melakukan hal tersebut, si calon legislatif jelas telah merendahkan intelektualitas pemilih dalam menilai calon. Mau gak sih intelektualitas kalian dihargai cuma sejumlah rupiah yang kalau dibelanjakan satu kali aja sudah ludes? Ini juga masalah masa depan negara. Saya sih masih muda, masih lama hidup di Indonesia jadi saya gak mau masa depan negara suram. Nanti susah juga buat saya. 
Ayolah, cari keberanian untuk menolak suap kecil-kecilan itu. Toh, jumlahnya kan gak seberapa. Gak sebanding dengan kesempatan untuk melakukan perubahan besar. 
Pikirkan utang negara.
Pikirkan RAPBN yang jumlahnya sangat besar dan akan dikelola orang yang salah.
Pikirkan diri kalian sendiri. Bagaimana bertahan di keadaan negara yang carut marut.
Mari peduli. Berhenti sinis. Gimana negara mau maju kalau warganya sinis. Siapa yang kalian harapkan mengatur negara kalau kalian warganya aja sinis dan gak peduli? Kalaupun gak bisa memberikan apa-apa ke negara selain uang pajak paling gak sudah berpastisipasi memilih pemimpin yang benar dari hati tanpa uang. 
Terakhir, sukseskan pemilu 2014. Gunakan satu kesempatan untuk melakukan perubahan dengan benar.
Oleh : Ida Muliyati – FE UNLAM
*Tulisan juga diposting di duniakatague.blogspot.com dengan judul yang sama.

2 thoughts on “[POLITIK] SATU KESEMPATAN UNTUK BERUBAH”

  1. ridho oktariawan says:

    gerakan untuk perubahan ??
    kalo masalah pilpres, nonton dibalik frekuensi.. hehe

  2. khalisarifpratama says:

    naratif dan analitif .. tulisannya berasal dari 3 sumber ( media online, orang tua dan postingan capres ) .. memang kalo harus berubah yah kesadaran diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *