Browse By

“Malang…”

sumber foto: http://halomalang.com/

     Pengumuman itu baru saja berlangsung, seketika membuat denting waktu sejenak berhenti dibenak ku. Kaki ku terasa berat dan mulutku seakan terkunci rapat. Masih sangat ku ingat kalimat beberapa menit barusan yakni saat Kepala Sekolah mengumumkan kelulusan Sekolah dan begitu sulit untuk aku percaya, Shila Anggara Handoko terdengar dengan jelas di telinga kami semua sebagai peraih nilai kelulusan tertinggi di daerah kami tinggal. Sekejap atmosfir Gedung berubah menjadi lebih panas dari beberapa menit yang lalu. Orang-orang begitu riuh dan ramai ke sana kemari saling mengucapkan kata selamat, tapi hanya aku yang diam membeku masih tak percaya tentang garis takdir yang aku punyai saat ini. Ya Shila Anggara Handoko adalah nama ku. Sebut saja dengan Shila lebih akrabnya.
     Di pojok ruangan terlihat seorang siswa yang sedang duduk bersama teman-teman yang lainnya. Mereka egitu terlihat bahagia, bercanda berfoto untuk sekedar  formalitas sebelum perpisahan ini benar terjadi. Tapi ada pemandangan berbeda ku dapati dari salah seorang dari mereka yang berkumpul disana. Senyum itu bukan yang aku kenal sejak tiga tahun yang lalu. Disinilah kisah ini berawal dan berakhir.

     Perkenalan kami berawal sejak kelas 3 SMK. Aku, Shila murid pindahan dari Bandung. Benar kata orang gadis bandung tak usah lagi diragukan kecantikannya. Kata mereka semua yang di sini aku sangatlah menarik. Mempunyai tinggi 162 cm dengan kulit putih dan rambut panjang lurus tergrai hingga pinggang ramping ku mampu membuatku sekejap menarik perhatian seluruh siswa yang ada di sekolah baru ku. Tak terkecuali dia, ya anak lelaki yang pendiam namun mempunyai misteri bagi ku.
     Kalimat pertama ku dengannya terucap ketika kami di takdirkan bersama mengikuti sebuah Jambore SAINS tingkat SMK. Awalnya aku begitu tidak menyukainya dengan sifat pendiam dan tertutupnya membuat kami sulit berkomunikasi. Tak hanya sampai disitu alasan ku tidak menyukainya dia juga anak terpandai di sekolah kami dan otomatis pun juga menjadi Rival berat ku mendapatkan gelar siswa nomor 1 di sekolah baruku karena dia terkenal selama 5 semester tak pernah hengkang dari peringkat teratas. Sikap acuh dan dinginnya membuatku semakin tak suka namun juga sedikit penasaran. “Siap atau tidak yakin atau tidak Cuma satu tujuan kita yaitu Pemenang dan hanya Pemenang”. Itulah kalimat pertama kami sejak tiga bulan lalu kami saling mengenal. Entah sihir atau gangguan jiwa jenis apa kami alami. Seperti mukzizat atau keanehan yang begitu langka terjadi kepada kami sejak kemenangan di hari itu hubungan kami pun semakin mendekat. Sifat dingin nya seolah mencair oleh kehangatan persahabatan diantara kami berdua. Dwi seakan tak seperti dia yang dulu yang sekarang menjadi seorang individu manusia yang pandai bersosial dengan siswa lainnya. Image dingin dan acuhnya seakan sekejap sirna tertelan oleh hembusan angin yang tiap detik selalu melewati kami. Sesekali kami bertengkar hanya hal sepele layaknya anak-anak kecil.
     Benar kata pepatah anak lelaki dan perempuan tak akan pernah bisa berteman dan ersahabat. Sering rasanya hatiku perih ketika dia dekat dengan yang lain. Begitupun sebaliknya namun kami terlalu munafik untuk saling mengakui perasaan masing-masing.
     Hingga akhirnya telah tiba hari yang begitu tak akan pernah bisa aku pahami seumur hidupku. Hari bahagia ataukah kesedihan. Hari ini merupakan hari perpisahan di sekolah kami. Dwi yang terlihat sekilas bahagia bersama teman yang lainnya tak seperti yang aku kenal selama 3 bulan ini. Meskipun singkat namun aku sudah begitu mengerti akan dia sepenuhnya. Terlintas sedikit raut kekecewaan di wajahnya. Bagaimana tidak dia yang selama ini terkenal tak pernah hengkang sedikitpun dari posisi pertama pada hari ini harus menerima kenyataan harus bergeser ke posisi kedua dan yang lebih mengejutkan akulah yang membuatnya harus rela menerima kenyataan ini. Aku memang sahabatnya namun kami juga  “Rival” dalam hal akademik.
     “ Hai wi ko manyun sih ?? marah ya ama Shila ??” celetuk ku. “ Ah gak ko La. Kamu ini aneh-aneh aja fikirannya. Kalah dalam bersaing itu kan wajar” ucap Dwi. “tapi masa sih seorang Dwi Ahmad Nur bisa kalah ma rival cewek kaya aku ?? ejek ku. “Kamu ini Shil gak pernah berubah masih aja kaya anak-anak. Shila meskipun aku sedikit kecewa tapi aku gak sedih kok karena aku bangga sahabat ku sendiri yang berhasil membuatku hengkang dari posisi itu terlebih itu kamu” ucapnya sambil tersenyum. Entah mengapa kalimatnya itu membuat jantungku berdebar kencang, tekanan darahkupun serasa naik dengan drasitis seakan aku merasakan gejala hipertensi.” Tapi kenapa kamu gak kaya biasanya wi kaya ada yang mengganggu kamu” ucapku. “ Hmm.. Aku akan kuliah ke Malang Shila.. aku sedih kita akan lama jumpa lagi. Kalau kamu kemana ??” Tanya nya. “ aku sih ke Unlam aja wi tapi aku gak sedih kok kan kita masih bisa berteman” jawabku dengan sedikit nada ceria. Dan kamipun menikmati hari itu dengan spenuhnya.
     Malang…. Sebuah kota yang begitu banyak menyimpan rasa terpendamku di sana. Sejak hari itu.. hari kepindahannya ke Malang kami kini terpisah tak hanya jarak dan waktu namun juga daratan dan pulau yang bebeda. Entah mengapa hatiku seakan terus terasa sakit dan menangis saat ku sadari dia tak lagi bersamaku.
     Tak tau mengapa kami kini saling hilang komunikasi. Mungkin karena kesibukan kehidupan kampus masing-masing kami. Terakhir aku tau kabar tentangnya, Dwi sangat aktif dalam organisasi di kampusnya. Aku senangmelihat dan mendengar kenyataan baik tentangnya. Tapi aku juga tak bisa terus berbohong kalau rasa sakit kehilangan ini terus menggerogoti hatiku secara perlahan.
     Satu hal yang tak pernah bisa ku lupakan hingga kami bertemu kembali nanti.
Saat itu… dering sms dari Handphone ku berbunyi. Sekilas terbaca nama Dwi di layar kaca Handphone ku. “ Hai shisil gimana kabarnya ?? baik ajakan ??” katanya. “Baik kok. Kamu sendiri gimana ?? kok lama baru hubungin ?? taanya ku. “ Aku sibuk banget Shil” balasnya. “oh gitu” jawab ku kecewa. “Shil aku mau bilang sesuatu hal sama kamu?” ku baca sms dwi. “apa ??” balasku singkat. “tapi aku gak siap sekarang Shila”. Katanya. “ kok gitu wi. Trus kapan ??” tanyaku kembali. “Ntar Shil setelah aku sukses dan punya uang banyak aku akan balik ke Kalimantan buat nemuin kamu lagi dan mengatakan semuanya”. Jelasnya dalam sms itu. “ Kenapa harus nanti ??” jawab ku lagi. “Aku harap kamu menegrti Shila. Aku masih terlalu munafik untuk mengatakan semuanya sekarang”  katanya lagi “ iya wi aku mengerti kok ?? balas ku dengan sedikit kecewa. “ Tunggu aku Shila dan percayalah” itulah sms terakhir darinya satu tahun yang lalu.
     Hingga detik ini kami tak pernah lagi berhubungan. Aku tak pernah tau apakah dia lupa dengan semua kata-katanya. Dia seakan mengacuhkan aku dari hidupnya. Namun aku sadari ini terjadi karena kesalahanku. Sejak 6 bulan yang lalu dia mengetahui aku berpacaran dengan seseorang melalui MedSos, tak pernah lagi iya menghubungi ku. Mungkin dia kecewa ataupun marah karena aku melanggar janji kai. Tapi aku juga tak bisa terus munafik berbohong karena dia begitu melupakan aku dengan kehidupan barunya yang di sana.
     Entahlah apakah kami akan seperti dulu lagi atau berakhir sampai di sini dan sperti ini. Dimulai dengan perasaan yang dingin dan berakhir dengan hal yang sama. Hingga saat ini aku hanya berharap suatu hari nanti takdir akan mempertemukan kami kembali meski hanya sebentar. Karena aku hanya ingin dia menepati janjinya dan mendengarkan apa yang ingin di katakannya pada ku.
    Hingga hari ini di awal Maret 2014 perasaan ini masih tertinggal dan hilang di kota itu. Itu lah kalimat terakhir yang ku tulis di buku diary ku 5 hari yang lalu. Sekejap bulir air mata turun membasahi pipi ku ketika ku teringat sejenak kota itu.. Malang… (vera wati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *