Browse By

SOSIALISASI PROFESI PENILAI – Dari Fiji sampai ke Cina?

BANJARMASIN – Dalam rangka sosialisasi Pembinaan Profesi Akuntan & Jasa Penilai. MAPPI wilayah Kalimantan Selatan & Tengah yang sebelumnya tergabung dalam MAPPI Kalimantan yang terdiri dari Kalsel, Kaltim, dan Kalteng mengadakan kegiatannya dua hari yakni pada hari Jum’at (14/2) di Aula rektorat lantai satu dan di hari Sabtu (15/2) di Hotel Aria Barito dengan tema “Meningkatkan Peran Serta Profesi Penilai Dalam Pembangunan Perekonomian Daerah Kalimantan Selatan dan Tengah.”

“Dengan adanya kegiatan ini, maka akan banyak memberikan dan meningkatkan pengetahuan anggota MAPPI dalam segala aspek yang menyangkut dalam profesi penilai,” kata Bapak H.M. Rusli dalam sambutannya yang mewakili Gubernur Kalsel dengan memberikan apresiasinya dalam kegiatan ini. Acara hari kedua di Hotel Aria Barito ini dihadiri banyak kalangan, baik dari instansi pemerintah maupun swasta.
Ketua umum MAPPI Bapak Ir. Hamid Yusuf  dalam sambutannya menerangkan bahwa ada dua sektor dalam penilai yaitu perbankan dan keuangan, pemerintah yang berkaitan dengan publik. “Yang memang bahwa pengelolaan aset adalah kebutuhan yang harus dipelihara,” katanya. Dadan Kuswardi selaku ketua PPAJP juga menambahkan bahwa ada dua tujuan dalam sosialisasi yaitu pembina jasa dan penambahan ilmu, “Yang kedepannya akan ada kegiatan pelatihan yang berkaitan dengan penilaian,” lanjutnya.
Acara sosialisasi ini berlanjut pada Musyawarah Daerah (MUSDA) pertama yaitu untuk memilih ketua dan struktur kepengurusan yang bertujuan untuk mentrasformasi kegiatan ataupun untuk meningkatkan profesi penilai publik, “Karena dengan adanya kepengurusan daerah nantinya akan lebih mempercepat atau mentransformasi keilmuan maupun profesi dari penilai publik,” kata ketua panitia, Bapak Zhaenal Akhli, S.T.
Dalam sejarahnya MAPPI sudah ada sejak tahun 1981. Sekarang profesi penilai semakin hari semakin meningkat dengan jumlah anggota sekarang untuk seluruh Indonesia sekitar 3600 penilai. Untuk yang sudah berlisensi atau berizin sekitar 350, dengan yang dibutuhkan sekitar 10000 penilai yang berfungsi untuk pembangunan daerah yang profesional dan independen.
“Di Banjarmasin baru satu orang yang berlisensi atau berizin yang padahal masih jauh dari yang dibutuhkan. Profesi ini menjanjikan, karena kebutuhan tenaga penilai sebenarnya sangat besar dan latar belakang untuk profesi ini dari sarjana apa saja asalkan mengikuti pelatihan dengan pengalaman 600 jam dan 200 jam dalam tim. Karena penilai juga masih belum populer atau belum banyak peminatnya sehingga kesempatannya terbuka luas. Mungkin dari mahasiswa masih banyak yang belum mengenal profesi ini,” katanya menjelaskan lebih lanjut.
Zhaenal Akhli selaku ketua panitia berharap kepada para penilai dapat meningkatkan peran dan kualitas penilai indonesia khususnya di Kalimantan Selatan dan Tengah menuju penilai yang profesional dan berintegritas.
“Saya juga berharap tentunya agar para penilai yang sekarang bergelut di dunia jasa penilai itu lebih bisa meningkatkan profesionalitasnya yang sesuai dengan visi dan misinya. Dan juga para penilai juga harus tunduk terhadap kode etik dan standar penilai Indonesia” harapnya.
Bapak Hamid Yusuf, anggota MAPPI dan salah satu pembicara kegiatan ini menyampaikan pengalamannya dalam menjalani profesi penilai. “Saya sudah pernah ke Fiji untuk menilai sapi dengan berat 2 ton lalu ke Cina untuk menilai hutan. Enaknya jadi penilai itu ya bisa jalan-jalan. Tidak hanya di kantor,” selorohnya.
Dengan semakin banyaknya permintaan terhadap jasa penilai, kesempatan bekerja dalam bidang ini terbuka luas. Profesi penilai ini sedikit banyak berkaitan dengan akuntansi dan bidang ekonomi secara luas. Seharusnya tidak susah untuk sarjana ekonomi menjadi seorang penilai. Anda berminat? (Ridho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *