Browse By

Idealisme Mahasiswa dalam Sebuah Surat

Ev, Apa kabar mahasiswa hari ini?
Masihkah sibuk dengan sinetron-sinetron cengeng yang tayang setiap saat ditelevisi? Atau masih sibuk dengan status-statusnya di facebook, twitter atau apalah lagi yang menjadi alat eksistensi diri.

Ev, sekarang kau sudah menjadi mahasiswa lalu apa saja yang telah kau dan generasimu ciptakan untuk negeri ini? Aku ingat dulu kau selalu sibuk bercerita tentang cita-citamu dan apakah sekarang kau sudah menjadi bagian dari masa depan yang dulu selalu kau rancang dengan baik itu. Aku hanya ingin mengingatkan satu hal padamu teman bahwa tugas mahasiswa yang sebenarnya adalah menciptakan bukan menerima ciptaan orang lain, kau pasti bingung? Maksudku sebagai mahasiswa kau harus bisa menciptakan semua hal yang menjadi jalan hidupmu, misalnya dimulai dengan hal yang paling kecil menciptakan sebuah pemikiran yang menjadi dasar dari semua tindakanmu. Ya mungkin semacam prinsip, nanti prinsip itulah yang akan menjadi arah dan rambu-rambumu untuk memulai kehidupan diluar dunia kampus. Pendidikan memang menjadi hal utama dalam sebuah kemajuan tapi pendirian dari orang yang berpendidikan itulah yang akan menjadi motor penggerak dan setir akan dibawa kearah mana ilmu yang ada dalam dirinya. Ev, aku ingin kau menjadi orang yang idealis. Orang yang berani berkata salah pada sebuah kesalahan dan berani berkata benar pada kebenaran bukan sebaliknya. Tapi kau harus ingat Ev menjadi orang yang idealis bukan berarti menjadi keras kepala tapi orang idealis adalah orang yang berani memegang prinsipnya dengan argumen yang berdasar. Ambillah sebuah keputusan yang mempunyai arti walau bagaimanapun kecilnya tapi selalu didasarkan pada prinsip-prinsip yang matang.

Kau tahu seorang penulis yang bernama SOE HOK GIE dia pernah berkata “Lebih baik diasiingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Dari kata-kata itu bisa kau bayangkan bagaimana GIE menggambarkan pemikirannya tentang idealisme. Idealisme itu sebuah keberanian, keyakinan dan keteguhan. Banyak orang pintar diluar sana tapi mereka diombang-ambingkan keadaan, mereka terlalu hanyut dalam sebuah keadaan yang semakin membuat negeri ini hancur, seperti kasus korupsi yamg setiap hari selalu eksis dan tidak pernah absen muncul dipemberitaan, bahkan petugas-petugas hukum yang diharapkan menjadi penumpas koruptor malah menjadi pemain utama dalam drama penangkapan koruptor-koruptor itu. Apakah itu tidak ikut hanyut dalam pusaran hitam namanya? Ev, aku tidak ingin kau menjadi seperti pohon bambu  yang jika angin datang maka suaranya menjadi sangat brisik tapi jadi lah seperti pohon oak yang berani menantang angin. (Putri Mawarti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *