Browse By

Pantaskah Mahasiswa CUEK terhadap PEMILU ?

Sebuah percakapan menarik terjadi didepan kursi taman sebuah kampus.
A : “Eh kemarin caleg dari partai abc kasih aku 50.000 lo biar nyoblos dia, terus sebelumnya juga ada caleg dari xyz kasih aku 100.000 , ada juga caleg def pernah kasih sampai 150.000”
B: “Waah lumayan tuh, bisa buat makan beberapa hari”
Seorang teman A yang lumayan kritis menanggapi dengan pertanyaan unik
C : “Terus kamu ntar nyoblos siapa ? kan diterima semua itu uang mereka, dan pastinya kamu janjikan mereka semua buat nyoblos kan.. dosa kalau bohongin mereka”
A menjawab dengan santai
A : “Aku memang ga bohongin mereka, ntar pas pemilu aku bakal coblos mereka semua”
C : “Kan jadinya kertas suaranya ngga sah”
A : “Laah.. itu urusannya lain lagi kan, yang penting aku turutin mau mereka, nyoblos n ga bohong kan”
            Si A sangat tidak peduli dengan siapa pemimpinnya kelak. Mungkin anda sekalian sedikit tersenyum membaca percakapan tersebut, realitanya memang percakapan itu tak pernah ada, tapi mungkin terbersit di benak anda pasti ada sebagian warga masyarakat yang sama “cuek”nya seperti A tadi, tak terkecuali mahasiswa.

            Pemilu 9 April 2014 sudah tinggal menghitung hari, berbagai fenomena menarik sering kita amati di berbagai media tentang bagaimana para caleg memikat hati warganya, ada yang dengan jurus klasik memajang foto di berbagai sudut kota, membuat panggung dangdut untuk hiburan warga, atau dengan jurus nyeleneh meminta bantuan roh nenek moyang dengan berendam di sungai keramat sampai pada jurus terbaru seorang caleg yang berasal dari kalangan pembantu memberikan jasa membantu gratis atau jurus seorang caleg yang bagi-bagi buku panduan sholat. Beragam memang cara yang ditempuh namun tak semua warga bisa terpikat dengan jurus-jurus tersebut.

            Membahas pemilu, erat kaitannya dengan politik, dengan mencoba meluruskan makna politik, saya berharap pembaca menyadari hakikat politik sebenarnya sehingga dapat memberikan sikap yang tepat pada Pemilu mendatang. POLITIK pada hakikatnya adalah mengurusi urusan rakyat. Mengurusi urusan rakyat adalah dengan cara berupaya mewujudkan pendidikan, kesehatan, serta pemerataan ekonomi untuk masyarakat.
Sejurus kemudian kita seakan diperlihatkan oleh negeri kita sendiri bagaimana politik sekarang kebanyakan dipermainkan hanya sebagai ajang umbar janji demi meraih kekuasaan. Ketika kekuasaan diraih yang terjadi hanyalah sebuah pengurusan urusan rakyat yang semu dan semi. Untuk menang pemilu itu susah, Salah satu ketua fraksi partai di MPR saja mengaku dirinya menyiapkan Rp1 miliar lebih untuk sosialisasi dirinya sebagai caleg 2014. Dan itu pun masih kurang. (Beritasatu.com,10/3). Konsekuensi dari mahalnya biaya politik, ke depan bisa disaksikan peraturan dan UU yang dibuat justru memberikan gaji, tunjangan, fasilitas dan penghasilan yang makin besar untuk penguasa dan anggota legislative. Akhirnya peran penguasa menjadi rancuh yag seharusnya memelihara dan menjadi pelayan rakyat dalam mengurusi urusan rakyat justru malah sebaliknya. Sayang sungguh disayangkan pada akhirnya rakyat lagi yang menjadi korbannya. Rakyat akhirnya hanya merasa bahan mainan untuk dibeli suaranya pada saat pesta besar demokrasi “PEMILU”.
            Lalu bagaimana sikap kita terhadap fenomena politik yang hanya membuat kita para pemilih pemula (mahasiswa) sebagai bahan mainan untuk dibeli suaranya ? Hindari politik uang. Bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan panitia pengawas pemilu, jika melihat adanya tindak kecurangan dan politik uang maka segera laporkan. BERTINDAKLAH ! Bukan DIAM dan APATIS !
Mahasiswa adalah orang-orang intelek, punya pola pikir yang baik dan peka terhadap lingkungan sekitar. Maka untuk menghadapinya masuklah pada pola pikir yang lebih komprehensif, berpikirlah akan bagaimana menyadarkan pemimpin untuk menerapkan sistem yang jauh lebih baik. Bukan dengan demo apalagi kekerasan tapi dengan terus menyuarakan kebenaran dan mengungkapkan fakta perlunya sistem yang baru. Sebuah mobil yang sudah rusak parah tak bisa diatasi masalahnya dengan sopir yang terus diganti. Tapi solusinya adalah dengan mengganti mobil yang dipakai. Maka mulailah berpikir untuk mengubah sistem Indonesia menjadi sistem yang lebih mengutamakan moral dan akhlak daripada materi dan kekuasaan. Mahasiswa sebagai penerus bangsa adalah salah satu agen perubahan. Maka jangan malu memulai perubahan untuk Indonesia lebih baik kedepannya. Mahasiswa itu peduli, berbicara dan bertindak !!
By : Astia Putriana, S-1 Akuntansi FEB Unlam, angkatan 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *