Browse By

Buruh, Pendidikan, dan Cinta

Oleh: Agung Setiawan (@agungdospy)


Sadarkah kita, yang setiap harinya belajar ilmu ekonomi dan bisnis, ada sebuah elemen penting yang seringkali luput dari perhatian. Elemen yang eksis. Namun, karena letaknya yang mungkin hampir tak terlihat, menjadikannya tak banyak diperhatikan.

Orang-orang yang bekerja dengan amat keras

Pernah saya menyaksikan beberapa tayangan televisi, orang-orang dengan pakaian lusuh, muka kusut, dan rata-rata kurus, bekerja dengan ekstra keras. Barangkali saya juga pernah bertemu mereka di suatu tempat, dan mungkin pula bercakap-cakap. Pekerjaan mereka yang membutuhkan energi dari tubuh-tubuh mereka. Begitulah, dengan bekerja begitu, mereka disebut buruh.

Buruh ada di mana-mana. Di pasar, pabrik, ladang-sawah, perkebunan, pelabuhan, bangunan dan tempat-tempat di mana ekonomi diciptakan. Mereka adalah sumber energi. Dari tangan dan kaki mereka lah roda perekonomian berputar. 

Setidaknya, barang-barang dan fasilitas yang kita nikmati adalah hasil dari olahan buruh. Memang, kita akan membayar keringat mereka. Tetapi seandainya buruh tidak ada, konsekuensinya sesuatu yang kita nikmati itu tidak ada. Bagaimana bisa sesuatu itu ada tanpa ada yang mengadakan? Meski pun benar, buruh dapat digantikan perannya dengan mesin, tapi itu tak seluruhnya.

May Day*

Pada suatu ketika di bulan april 1886, ratusan ribu kelas pekerja Amerika Serikat (AS) bergabung dalam Knights of Labour untuk menghentikan dominasi kelas Borjuis. Mereka bersatu padu dalam menentang penindasan. Hal itu terjadi karena hampir diseluruh perusahaan AS mengeksploitasi tenaga kerja mereka. Kaum proletar dipaksa bekerja penuh dalam 12-15 jam perhari, bahkan upah mereka begitu rendah, tak sebanding dengan pekerjaan.

Kemudian, menjelang bulan Mei, Knights of Labour dan Federasi Buruh AS melakukan propaganda, dengan tuntutan: perubahan jam kerja menjadi delapan jam sehari. Mereka terus bergerak menekan pemilik modal. Hingga pada tanggal 1 mei 1886, Federasi Buruh AS mengordinasikan 350.000 buruh diseluruh negeri untuk melakukan pemogokan kerja. Dampaknya, ketegangan di beberapa kota di AS. Para buruh melakukan mogok sembari berdemo di beberapa kota, dan pusatnya di Lapangan Haymart, Chicago. Di situlah terjadi kerusuhan. Saat itu, secara mendadak sebuah ledakan terjadi di dekat barisan polisi yang mengawal aksi buruh. Alhasil, polisi—dengan menduga bahwa pemboman itu dilakukan oleh para buruh—membalas dengan menembaki kerumunan buruh. Seketika itu juga, ratusan orang terluka dan beberapanya langsung tewas mengenaskan terkena timah panas.

Setelah peristiwa itu, hampir tokoh-tokoh buruh AS ditangkapi. Lalu mereka diadili. Namun sayangnya, pengadilan dirasa lebih berpihak kepada kaum borjuis. Menurut sejarah, delapan orang aktivis buruh divonis hukuman gantung, sementara yang lainnya dibui.

Yang terjadi selanjutnya adalah kemarahan masyarakat. Pengadilan dituding telah berlaku korup dan membela para pengusaha. Tak pelak demonstrasi menuntut pembebasan aktivis buruh digelar terus-menerus. Sementara itu, pada Kongres Sosialis yang diselenggarakan di Paris pada Juli 1889 menetapkan 1 Mei sebagai hari buruh internasional. Hal itu demi menghormati pejuang buruh yang memperjuangkan nasib buruh.

Terkait dengan Pendidikan

Kisah di atas bukan sekadar romantisme masa lalu buruh di suatu belahan dunia. Ada  beberapa makna yang dapat kita raih. Pertama, dunia selalu diliputi oleh penindasan. Nabi, filsuf, dan orang-orang bijak telah banyak memperbaiki dunia, namun kejahatan selalu ada. Orang-orang serakah masih bermunculan dan berkeliaran di sekitar kita. Maka, menjadi tugas kitalah untuk turut serta berbuat kebaikan, salah satunya memerhatikan nasib orang-orang miskin dan pekerja rendahan. Seumpama suatu saat kita memiliki kuasa terhadap perekonomian atau bisnis tertentu, ingatlah: kelas pekerja tak boleh diperlakukan semena-mena.

Kedua, buruh terkait erat dengan pendidikan. Bisa dibilang, buruh memiliki level pendidikan yang rendah. Logikanya, orang yang berpendidikan tinggi tak akan mau bersusah payah bekerja memeras keringat hanya untuk upah dan gaji yang relatif rendah. Sejak zaman kolonialisme di tanah air, pribumi seakan menjadi budak bagi bangsa penjajah. Faktornya disebabkan oleh keterbelakangan suku-bangsa kita, tidak mengenal teknologi, masih dipimpin oleh sistem feodalisme-kerajaan yang menjunjung tinggi pihak istana, dan banyaknya kepercayaan mistis serta takhayul di kalangan masyarakat pada waktu itu. Hal itu menyebabkan intelektualitas pribumi rendah, sehingga mudah untuk diperbudak. Mereka tak bisa melawan karena tidak tahu bagaimana caranya. Dan hingga kini pun masih begitu-begitu saja. Pendidikan kita masih bermasalah. Orang-orang yang berpendidikan rendah terpaksa berkerja seadanya, ada yang menjadi pemulung, pedagang asongan, buruh, dan sebagainya. Padahal jika seluruh penduduk bangsa ini mau mengubahnya, misalnya dengan menciptakan teknologi pengganti peran buruh, bisa jadi meminimalisir penggunaan manusia dalam produksi barang dan jasa. Tetapi syaratnya, buruh-buruh yang digantikan tersebut dididik dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih tinggi untuk bekerja dengan menggunakan otak, bukan lagi otot. Sehingga nantinya sumber daya manusia semakin berkualitas. Tidak lagi harus melakukan demo dan mogok hanya untuk menuntut hak-hak mereka.

Serba Cinta

Di Hari Buruh Internasional dan sehari setelahnya, Hari Pendidikan Nasional, patut kita refleksikan sesuatu yang lebih dalam. Bahwa apabila Buruh dan Pendidikan saling berkaitan, maka dengan cara bagaimana kaitan itu diwujudkan. Begini, menurut Sudjiwo Tedjo (2014) dalam beberapa kicauan di akun twitternya (@sudjiwotedjo) pernah mengatakan, “Manusia Jangka-Pendek membicarakan Politik, Manusia Jangka-Menengah membicarakan ilmu dan filsafat, sedangkan Manusia Jangka-Panjang membicarakan Cinta.” Saya benar-benar mengamini pernyataan beliau itu. Dan kutipan itu sangat relevan dengan dua hari khusus yang kita bahas di atas. Ketika politik dijadikan metode untuk membuat kebijakan terhadap buruh dan pendidikan, bisa jadi itu hanya berlaku untuk beberapa tahun (jangka-pendek), karena kemungkinan besar kebijakan akan selalu berubah-ubah, sehingga efeknya hanya sementara. Sementara, melalui pendekatan keilmuan dan filosofis, buruh dan pendidikan dikaji dengan sistematis dan komprehensif. Bidang-bidang ilmu dan berbagai rumusan dijadikan alat ukur untuk memecahkan masalah kedua hal tersebut. Tentu saja melalui jalan rasionalitas dan obyektivitas, masalah dapat teratasi. Namun, lagi-lagi efek ini hanya sementara—mungkin sampai ilmu tersebut menjadi usang dan ditemukan ilmu baru untuk menjawab tantangan yang baru.

Lalu, apakah yang abadi? Apakah yang dapat menjawab segala macam persoalan dengan efektif dan efisien? Jawabannya tak lain adalah cinta. Buruh menjadi sejahtera saat manajemen perusahaan dan pemilik modal memberi cinta, begitu pun sebaliknya. Cinta dalam konteks ini dapat berupa perhatian, saling menghargai, apresiasi, dan menjalin hubungan sebagai sesama manusia yang bersaudara. Selaras dengan itu, pendidikan pun harus dilandasi dengan cinta. Penyelenggara pendidikan dan peserta didik mesti saling memahami. Pengajar sebagai pemberi cinta yang tulus berupa buah-buahan ilmu pengetahuan agar peserta didik dapat menikmati manisnya berilmu. Cinta guru supaya murid tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa baik akan menjadi pemicu utama sebuah peradaban yang gemilang dan berjangka panjang, bahkan abadi. Demikianlah kekuatan cinta.[]
*berdasarkan twit-twit dari akun @LPM_Edents

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *