Browse By

Fasilitas kampus “ELIT” dipertanyakan?

BANJARMASIN – Sebutan kampus elit tentu tidak asing ditelinga mahasiswa/i Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (FEB UNLAM). Namun apakah sebutan itu sepenuhnya benar? Untuk itu kru Jurnal Kampus menelusuri berbagai fasilitas yang menjadi sumber keluhan mahasiswa. 

Salah satunya ruang 15, ruangan yang terletak di lantai 2 dengan kondisi gelap dan pengap akibat air conditioner (AC) serta kipas angin yang tidak berfungsi dengan baik. Bahkan kipas angin di ruangan ini sudah tidak memiliki baling-baling. Ironisnya ketika kita menengok jendela akan terlihat pandangan tidak indah akibat sampah.

“Saya pernah tertunda kuliah karena kabel proyektor putus di ruang 15. Itu sangat mengganggu. Perkuliahan sendiri menjadi tidak efektif,” tutur Maria Elisabeth, mahasiswi Jurusan Akuntansi 2013. Bukan hanya mahasiswa/i yang mengeluhkan ruang 15, Ibu Elinda Andriani, M.Pd sebagai pengajar Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) juga mengeluhkan panasnya ruangan tersebut.

Berbicara mengenai fasilitas yang “kurang” ada juga toilet yang bermasalah. Lina Rosita Halim misalnya mengeluhkan jarak antara toilet dan ruang 15 yang jauh serta wastafel di beberapa toilet tidak berfungsi. Arif Rahman, Ketua Kelas Nim Ganjil Jurusan Akuntansi Angkatan 2013 bahkan secara terang-terangan mengaku tidak pernah memakai toilet di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Tidak hanya toilet. Keluhan mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya, merasa cukup dirugikan dengan kebijakan pungutan parkir. “Harusnya parkiran lebih baik lagi. Misalnya parkiran dibuatkan atap agar kendaraaan dan helm aman dari panas dan hujan,” ujarnya. Dia juga mempertanyakan tanggung jawab pengelola parkir kalau ada mahasiswa/i yang kehilangan helm. 

Hal berbeda diungkapkan Arizal Aditya yang mengakui memang ada sebagian proyektor yang agak buram  seperti di Aula dan ruangan yang panas seperti ruang 15. “Itu tidak terlalu mempengaruhinya dalam belajar. Fasilitas itu hanya pendukung sistem pembelajaran bukan yang utama. Utamanya adalah dari kita sendiri belajarnya memusatkan konsentrasi kepada penjelasan dosen,” menurutnya. 

Rizal juga menambahkan seperti dalam ilmu manajemen bahwa harus ada perencanaan yang baik. Dia yakin hal itu yang sedang dilakukan oleh pihak fakultas terkait fasilitas. “Semua itu pasti butuh proses,” katanya.

“Kita lebih beruntung dibanding fakultas lain. Di fakultas lain sulit mencari ruang yang ber-AC jadi sudah sepantasnya kita bersyukur,” ungkap Dicky. Dia mengaku tidak pernah mendengar keluhan dari teman-teman mahasiswa/i mengenai ruangan dan fasilitas. “Kalaupun ada saya siap menyuarakan,” kata pria yang bernama lengkap Muhammad Dicky yang sekarang menjabat sebagai Komti Jurusan Akuntansi angkatan 2013.

Bapak Saberi saat ditemui Kru Jurnal Kampus membenarkan kalau ruang 15 sudah lama bermasalah. Pihak atasan juga sudah mengetahui tetapi belum ada pergerakan. Beliau juga menyesalkan pihak D3 yang tidak melaporkan ke Kasubag Umum. “Kalau melapor pasti ada reaksi.” Saat disinggung mengenai fasilitas kampus seperti proyektor dan toilet  beliau mengatakan hal itu tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit dalam perbaikan.

“Kami juga seringkali berkeliling untuk mengontrol parkiran. Menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai sumbangan parkir. Jika tidak ada sumbangan mungkin tidak ada lagi petugas parkir yang mau menjaga. Himbauan petugas parkir sendiri kepada mahasiswa untuk menjepit helmnya di box kendaraan agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi lagi,” jelas Bapak Saberi.

Yang perlu digarisbawahi di sini, kepemilikan ruang 15 bukan hanya milik Diploma 3. Semua fasilitas itu milik fakultas. Menurut Drs. M. Effendi, M.si selaku Kepala Jurusan Diploma 3. 

“Sudah ada melapor pada pihak fakultas dan fakultas yang melanjutkan ke rektorat akan tetapi dana khususnya (UKT) lambat sampai ke fakultas. Sekarang tidak mempunyai dana taktis sehingga itulah yang menjadi momok semua dosen dan pimpinan jadi sistemlah yang harus dibenahi,” jelas dosen yang mengajar makro dan mikro ini. Beliau juga mengatakan harus dari mahasiswa yang menuntut rektorat agar ada pergerakan yang lebih baik.

“Tidak ada laporan yang sampai ke saya mengenai ruang 15,” begitu kata Bapak Drs. Ec. A.Sayudi, M.Si, Ak, CA. Beliau menambahkan untuk perbaikan fasilitas bukan tidak ada dananya tetapi harus terprogram belanja pemeliharaan. Misalnya seperti servis AC 3 bulan sekali harus dilakukan juga. Menurut beliau mahasiswa tidak punya rasa memiliki. Memang awalnya ada pengelolaan tapi alangkah baiknya bersama-sama menjaga fasilitas kampus untuk kepentingan bersama. (nadya,kamila,husaini)

“Kondisi Ruang 15 saat ini”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *