Browse By

INDIGO

Namaku Violet. Armelita Violet. Aku gadis remaja biasa yang menjalani kehidupannya biasa saja. Aku sekolah, berteman, hang out. Hingga aku bertemu gadis kecil itu, semuanya berubah.

Hari itu ketika pulang sekolah, aku, Mitha, Deden, dan Rila seperti biasa telah menguasai halte bis depan sekolah dengan segala kehisterisan kami. Entah itu celoteh tentang pelajaran, komentar tentang guru, tingkah teman sekolah kami hari itu, sampai komentar tentang paman bakso yang jualan di kantin.

Beberapa hari sebelumnya aku telah merasa tidak enak badan. Kadang aku merasa kedinginan padahal cuaca sangat panas. Begitu juga saat itu, aku berkeringat dingin. Mitha yang saat itu mengeluh tentang cuaca panas hari itu sampai menatapku dengan aneh ketika memegang tanganku yang dingin seperti balok es.

Ku anggap wajar karena sebelumnya aku memang sakit dan sempat absen tiga hari dari sekolah.

Aku menatap jalanan yang cukup ramai. Saat itulah aku melihat sosoknya. Tepat di depanku, berdiri di seberang jalan. Seorang anak kecil dengan rambut pendek sebahu dan poninya yang menutupi dahi. Wajahnya hanya menatapku datar. Tetapi pandangannya seperti berbicara kepadaku. 

Aku bergidik karena gadis kecil itu tidak juga mengalihkan matanya sedikitpun dariku. Aku mengalihkan pandanganku dan kembali bercengkrama dengan teman-temanku. Hari itu aku mengacuhkannya.

2 hari kemudian…

Perpustakaan sekolah letaknya di pojokkan bangunan sekolah yang terlindung dari segala hiruk pikuk siswa. Kadang sangat sunyi sehingga menimbulkan kesan suram dan menyeramkan. Saat itu jam pelajaran pertama. Aku baru saja melangkahkan kakiku keluar pintu perpustakaan ketika sebuah tangan kecil menahan langkahku. Dingin langsung menjalari punggungku.

“Kakak!” suaranya pelan tetapi sangat jelas di telingaku.

Aku berbalik dan ajaibnya hanya terpaku ketika menemukan gadis kecil yang ku lihat dua hari yang lalu di seberang halte sekolah. Pikiranku terlalu beku hingga tidak sempat memikirkan bagaimana bisa gadis itu sekarang berada di hadapanku. Dengan baju yang sama dengan yang dikenakannya kemarin.

“Jangan pulang! Tinggalah di sekolah hingga gerimis reda!” kepalanya menggeleng takut ketika mengucapkan kalimat itu.

“Kenapa?” suaraku terdengar seperti suara cicitan ketakutan. 

Dia menggeleng lagi. Aku menatapnya ketakutan. Serangan panik mulai menjalariku. 

“Aku gak mau kakak kenapa-kenapa!” 

Perasaan tidak enak langsung datang. Aku merasa seperti sesuatu akan terjadi kepadaku hari ini. Tanpa ku sadari kakiku telah berjalan mundur dengan perlahan lalu aku berlari kembali ke kelas tanpa menoleh lagi ke belakang.

Sepanjang sisa jam pelajaran di sekolah aku tidak bisa berkonsentrasi. Yang ku ingat hanya kata-kata gadis kecil itu. Dua jam sebelum jam pulang sekolah tiba, gerimis mulai turun. Dan itu adalah pertanda mimpi buruk itu mungkin akan benar-benar ku alami.

Larangan itu sama sekali tidak membantu. Kata-kata yang terus ku ulangi sepanjang pagi justru membuatku ingin secepatnya mencapai rumah dan bergelung dengan selimut hangat. Tertidur dan mungkin tidak apa-apa jika baru terbangun esok pagi. Saat itu aku hanya akan menganggap semua yang terjadi hanyalah mimpi.

Bel sekolah berbunyi. Aku sempat membeku. Lalu membereskan semua benda yang bertebaran di meja belajarku. Dengan tergesa-gesa aku melangkah keluar kelas. Di lorong kelas menuju parkiran langkahku terhenti oleh sebuah panggilan. Bapak Jayadi, guru fisika sekaligus wali kelas kami memintaku mengikutinya ke ruang guru. Aku menatap ragu-ragu ke luar jendela di sepanjang lorong kelas. Rintik gerimis masih berjatuhan dengan irama yang menghipnotis. Aku menghela napas, aku tidak mungkin menolak perintah guruku. 

Selama setengah jam kepulanganku tertunda karena harus membantu Bapak Jayadi mengoreksi pre-test fisika kelas sepuluh. Aku sudah kelas dua belas dan fisika kelas sepuluh itu mudah. Tetapi dengan segala yang berkecamuk di dalam kepalaku tetap saja pekerjaan ini sangat menyebalkan. Fisika sialan!

Ketika aku mencapai parkiran dan menemukan motor matic ku, gerimis belum juga reda. 

“Jangan pulang! Tinggalah di sekolah hingga gerimis reda!”

Tidak! Aku akan tetap pulang! Aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu!

Aku akan langsung pulang, begitulah ucapku ketika keluar dari gerbang sekolah. Tetapi aku menghentikan kendaraanku di halte depan sekolah ketika melihat teman-temanku, Mitha dan Deden, minus Rila melambai-lambai kepadaku untuk mampir. Seperti hipnotis aku menghentikan motorku di sana.

“Vi, lo kemana aja sih? Kita tungguin dari tadi loh! Itu si Rila sampai kehausan,” kata Deden mengarahkan telunjuknya ke seberang jalan di mana Rila sedang membeli minuman dingin pada pedangan kaki lima.

“Eh… Tadi bantuin Bapak Jayadi koreksi soal,” jawabku dengan nada kikuk. 

Rila dari seberang jalan melambai-lambaikan tangannya kepadaku. “Vi, lo mau gue beliin juga gak?” teriaknya. Aku terpaku melihat Rila. Dua hari yang lalu, gadis kecil misterius yang menemuiku di perpustakaan juga berdiri di tempat yang sama dengan Rila. Aku terdiam lalu seperti kembali ke dunia nyata ketika Rila memanggilku lagi dengan nama lengkap. 

“Armelita Violet!”

“Eh … Gak! Gak!” tolakku pada tawarannya.

Mitha ternyata menyadari keanehanku. “Lo kenapa, Vi?”

Gue baik-baik aja kok,” jawabku seraya mengalihkan pandanganku pada Mitha dan Deden yang telah menatapku dengan pandangan aneh mereka. 

Semuanya terjadi begitu cepat. Tepat ketika aku mengalihkan pandanganku, suara benda bertabrakan terdengar sangat jelas. Seperti gerakan lambat aku mengalihkan kepalaku lagi dan mendapati tubuh Rila telah bersimbah darah di aspal. Dua mobil, truk dan satu buah mobil pribadi berada di antara tubuhnya. Di kedua benda itu terdapat cetakan merah darah segar yang membuatku pusing ketika melihatnya.

Tubuhku kaku, aku melangkah seperti robot mendekati kerumunan orang yang mencoba memastikan Rila masih selamat. Tanganku bergetar hebat dan aku hanya mampu berdiri di luar kerumunan itu. Apa yang mereka ucapkan seperti desingan kacau di telingaku. 

Mitha dengan bajunya yang telah berganti warna darah datang menghambur memelukku. Dia sesegukkan dan berkata, “Vi, Rila … meninggal Vi! Dia gak selamat. Dia udah gak napas. Ya Allah, Rilla Vi! Rilla!” Sedangkan aku menangis tanpa suara. 

Samar-samar dalam pandanganku yang kabur dengan air mata, aku melihat gadis misterius itu di seberang sana. Di tempat pertama kali aku melihatnya. Ia menatapku dengan sama murungnya. Air mataku banjir, entah karena apa. Aku merasa perasaan bersalah mendesak masuk ke dalam diriku. Andai saja, andai saja aku menurut! Andai saja aku menunggu gerimis reda! Mungkin saja… Rila masih hidup.

Sejak kejadian itu, sejak hari itu. Keesokan harinya ketika aku terbangun dengan mata yang sembab, aku bisa melihat. Melihat mereka yang tidak seharusnya ku lihat. 


Banjarmasin, 17/12/2012, 12:00 AM
Cerpen pertamaku setelah empat bulan di Banjarmasin tanpa menghasilkan cerita sastra apapun.

Oleh: Ida Muliati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *