Browse By

“Tak Terganti”

Oleh: Nadia


kring…kring…kring alarm mengganggu mimpiku di pulau kapuk.

Segera aku  terbangun dengan mata setengah terbuka, aku menguap lagi dan mendengar nyanyian bantal dan aku tertidur lagi, lagi lagi alarm membangunkanku, aku lupa mematikannya.

Benar benar mengganggu, alarm benar-benar manja, dia akan terus berbunyi kalau diacuhkan.

 Aku menyerah, akhirnya ku buka jendela kamarku, ku dengar burung bersiul, pohon pohon melambai menyapaku pagi ini ,pagi yang indah cuaca hari ini cukup baik. Semoga pasienku hari ini tidak benar-benar parah dan aku bisa mengatasi semua masalahnya.

Namaku Nina, umur 22 tahun, dengan tinggi 160 cm, kulit sawo matang, berkacamata, baru baru ini aku memakai pengaman gigi,penampilanku  kurang lebih seperti telenovela jaman dulu . seorang psikolog muda dan satu-satunya psikolog di sini . Tepatnya di kota yang berjuluk sebagai kota dodol, Kandangan. Tidak banyak yang ku ketahui tentang kota ini,tapi ini tempat menjadi kenangan yang belum menemukan akhir cerita.


Tiba di Rumah sakit. Aku langsung menuju  ruangan. Ada pasien?

Ada dok , katanya beliau ditemukan dijalan oleh warga, warga yang mengantar ke sini, menurut laporan warga dia mengalami depresi berat, baru-baru ini dia kehilangan ayahnya dok.

“baiklah, bawa ke ruangan saya .”

Tok tok tok…. pintu diketuk.

, “Silahkan masuk, jawabku”

Aku menatap dan hanya mampu menatapnya lebih jauh, menatap matanya hendak menyelami apa yang dia alami selama ini . kenapa dan kenapa dunia merubahnya menjadi suram. Kemana dunia yang berwarna yang selama ini dia tanamkan pada hatinya.

Aku tertunduk dan menutup mataku, aku berharap ini mimpi, aku berharap ketika aku membuka mataku aku menemukan diriku dikamar tidur. aku…. aku…. aku…..berdiri terpaku dan melihatnya dari dekat “benarkah ini kau? Orang yang kucari selama ini? “Mengapa? Apa yang terjadi? Kenapa? Kenapa?” Jawabku menatapnya.”Jawab aku Rangga Pratama .

5 Tahun yang lalu

“Mengapa ranking 1 dapatnya hanya 70 bukannya 100.” Tanya ibu guru

 Kudengar gelak tawa seisi kelas. Aku hanya tertunduk dan hanya mampu berdiam.

Aku adalah orang yang dibenci seisi kelas , sejak aku mendapatkan peringkat 1, entahlah mungkin karena mereka terkejut aku bukan orang yang diperhitungkan masuk ke jejeran peringkat 3 besar, tidak aktif di dalam kelas, organisasi, ataupun untuk hal yang kecil,seperti teman aku pun tak punya.

Aku hanya bermain dengan duniaku sendiri,hanya mampu bicara dengan hatiku sendiri dan hanya berimajinasi didalam pikiran-pikiran yang kubuat sendiri.

Sampai suatu saat datanglah dua orang murid baru dikelasku, ada cewek dan cowo. Yang cewek namanya Saufa , Saufa gadis yang cantik, tinggi,dengan rambut panjang dan yang membuat dia lebih sempurna adalah  dia peringkat  1 dari sekolahnya dulu. Dan yang satunya cowo bernama Rangga dengan tingi sekitar 160 cm, kulitnya putih, pintar pastinya ketahuan dari bagaimana dia membawa dirinya dan cara dia bersosialisasi dan membaur dengan teman di kelas.

Kehadiran mereka membuat antusias seluruh teman-temanku, mereka membawa angin segar untuk menggeser diriku atau lebih tepatnya melenyapkan diriku dari peradaban kelas ini.

Pulang sekolah seperti biasa aku berjalan kaki yang sebenarnya jarak antara rumahku dan sekolah cukup jauh, aku senang jalan kaki sendiri aku bisa berimajinasi dengan pikiran-pikiranku, memikirkan hal-hal sendiri dan menjawabnya dengan sendiri pula.

Kulihat anak baru ada di depanku berjalan berdua dengan Bima teman sekelasku, dan  disaat itu pula ada dari arah berlawanan sebuah sepeda motor yang menatapku sangat lama, dia langsung membelokkan kendaraannya dan sepertinya mau menghampiriku,merasa terancam dengan orang tersebut aku berjalan cepat dan berkata jangan sekali sekali tengok belakang Nina, jangan kata hatiku.

Dek…..

Dek…..

Dag dig dug jantungku terasa mau copot ,suara itu seperti suara om om, om om ganjen pikirku. Ya Allah tolong hambamu ini.

Brum…brum…brum kendaraan tersebut memutar badannya dan tepat menghalangi jalanku.

Aku tak bisa ber…na..pas

Orang tersebut membuka helmnya dan ….

“Dek mau tanya, adek tahu anak saya , namanya Rangga Pratama? Dia murid baru di sekolah ade menunjuk lambang sekolahku.” Tanya seorang bapak berkulit putih, berkumis tebal, dan tersenyum ramah padaku.

 Aku mulai menemukan jalan untuk bernapas, dia…..berjalan ke arah sana pak, aku menunjuk ke utara. Tapi anehnya Rangga dan Bima sudah menghilang.

Sejak saat itu aku setiap hari bertemu bapanya tentunya tanpa sepengetahuan Rangga, beliau selalu saja kehilangan Rangga, aku  akhirnya melewatkan pulang sekolah dengan duduk ditaman bersama bapanya Rangga, beliau setiap hari menanyakan rangga bagaimana dia di kelas, bagaimana dia bersosialisasi dengan teman-teman, sekarang aku menjadi detektif setiap hari aku mengamati rangga dari jauh dan tidak ada hal buruk tentangnya, dia diterima dengan baik, nilainya meningkat setiap hari, dia benar-benar luar biasa simpulku. Bapanya tersenyum. Aku tahu maksud senyuman itu beliau bangga terhadap anaknya.

Keesokan harinya, terjadi kehebohan buku Saufa dan Rangga tertukar. Saufa menceritakan hal tersebut kepada ibu guru dengan semangatnya.Teman-teman yang lain mulai menunjukkan dukungan Saufa dan Rangga. Hanya aku yang diam dan tak memberi komentar apapun.  Aku tahu perasaan Saufa, dia menyukai Rangga. 

Pulang sekolah aku berjalan kaki dan tidak jauh dariku ada anak lelaki berjalan sendiri, dari postur tubuhnya aku tahu dia Rangga. Dia berjalan seorang diri menuju lapangan sepakbola.

Dimana bima? Dan mau apa Rangga ke lapangan sepakbola? Hatiku bertanya, aku pun tak mampu menjawabnya. Karena begitu penasaran aku mengikutinya dari belakang, dia berjalan lurus saja mungkin dia mau bermain sepakbola, ya sudahlah ini sudah cukup menjawab rasa penasaranku, ketika aku mau berbalik badan, kulihat dia berbelok ke kiri seperti jalan rahasia, rasa penasaranku bangkit lagi , aku terus mengikutinya hingga aku menemukannya duduk di sebuah warung “Es Pisang Salju”.

“Kau tidak mau?” Rangga berbicara sendiri.

Aku memikirkan yang tidak tidak, jangan jangan ini seperti drama korea Master Sun yang pemain utamanya bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu.

“Apa yang kau pikirkan?” Dia berbalik badan ke arahku.

Duduk di sini , dia menunjuk sebuah kursi di sampingnya.

Aku ketahuan, aku berjalan mendekatinya dengan muka dibalut tomat. Menjadi merah seketika.

“Apa aku terlihat memalukan?” Tanyaku menatapnya

Dia mengangguk dan bodoh sekali kalau aku tidak mengetahuinya. Aku jadi ragu kau benar benar ranking satu, kau tidak cukup bagus untuk menjadi detektif.

Katakan padaku .

Apa?

Apa ayahku dibalik semua ini?

Aku tersenyum, dan tidak ada pilihan selain mengangguk.

Kau….? tersenyum. Wah ini pertama kalinya aku meihatmu senyum sejak pertama kali aku masuk sekolah, lebih seringlah tersenyum, duniamu terlihat suram dimataku. Beranjaklah dari duniamu dan masuklah ke dunia yang lebih berwarna.

 “Kau tahu es pisang salju sebelumnya?” Tanya rangga

Aku menggeleng.

“Kau? Jadi ini pertama kalinya.” Wah duniamu benar-benar, sekarang ceritakanlah padaku sesuatu tentangmu.

Aku terdiam. Tidak ada yang bisa ku ceritakan.aku….

“Cita-citamu?”

“Aku berfikir apa cita-citaku?” lama aku terdiam hingga….

“Jangan bilang kau sampai saat ini belum tahu apa cita-citamu?”

Aku menunduk dan akhirnya mengangguk secara perlahan.

Dia bengong, ahh sudahlah duniamu hanya diam kurasa, aku mau jadi dokter hewan. Aku dulu punya seorang nenek, beliau begitu mencintai kucing, beliau saat itu menitipkan kucing padaku, aku tak suka kucing, aku tak menjaganya hingga si kucing itu hilang dan tak lama setelah mendengar kabar itu neneku meninggal. Aku merasa bersalah pada nenekku hingga saat ini.

Aku diam, dan menepuk pundaknya sebagai bentuk keprihatinan dan turut merasakn kesedihannya.
Begitulah kami setiap pulang sekolah menikmati es pisang salju yang begitu nikmat .pisang salju itu pisang yang direbus, dikasih es, dikasih sirup merah dan salju itu hanya bentuk istilahnya saja karena warnyanya putih, aku tak tau bahannya apa, yang aku tahu ini begitu nikmat tak tergantikan. Ditambah sahabat yang selalu mencurahkan isi hatinya, aku hanya cukup mengangguk dan semakin hari mulai memberikan respon dan tanggapan terhadap curahan-curahan hatinya.

Aku besok lomba cerdas cermat, kau harus menyaksikan . Dukung aku.

Aku tersenyum, tentu saja teman ku goyangkan badannya dan ku tepuk punggungnya. Aku begitu bangga terhadapnya.

Aku gugup luar biasa, tanganku begitu bergetar ketika dia berada di lomba cerdas cermat itu, aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati, setiap soal yang diberikan agar dia mampu menjawabnya.

Seperti takdir aku bertemu bapanya Rangga, beliau duduk di sebelahku. Melihat tanganku bergetar luar biasa beliau memegang tanganku beliau sudah kuanggap seperti ayahku sendiri, beliau berbisik memintaku menjaga anaknya , jadilah orang yang terus berada di sisinya hingga akhir.

Aku terkejut dan hanya tersenyum tak mengerti maksud ucapan beliau.

Bagaimana? Dia menghmpiriku begitu acara selesai

Aku mengacungkan kedua jempol untuknya. Kau Keren.

Dia langsung mengambur memelukku. Uhuk uhuk berhenti aku…sulit bernpas ucapku.

Dia melepaskan. Maaf katanya aku terlalu senang. Mukanya merah.

Aku hanya tertawa.

Esoknya aku tak menemukan dia, Rangga . aku tak menemukannya hingga hari berjalan begitu cepat dia tak pernah kembali ke sekolah, di lapangan, di warung es pisang salju, hingga berita tentang kepindahannya muncul ke permukaan bumi dan membuatku susah bernapas.

Aku hanya diam, jauh didalam hatiku aku berteriak dan menangis . dia….pergi dan tak akan kembali.

Dia kembali

 Tepatnya setelah 5 Tahun tak pernah berjumpa sekarang dia berdiri di hadapanku.tapi tidak dengan kondisi yang aku bayangkan. Aku membayangkan dia menjadi dokter hewan yang sukses dengan ruangan besar di dalam ruangan tersebut dia mampu merawat hewan hewan dengan baik, terutama kucing yang dia benci, dia tidak seperti itu. Dia pasienku, pasien depresi akibat luka yang ditinggalkan oleh kepergian ayah dan tak ada yang mampu mendengar curahan hatinya.

Aku menghambur memeluknya. Aku akan mengembalikan duniamu Rangga, beranjaklah dari duniamu yang suram itu  dan masuklah ke duniaku yang kini telah berwarna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *