Browse By

Melihat Pendidikan Melalui Kacamata Dosen


JURNAL KAMPUS-(8/5). Tanggal 2 Mei merupakan tanggal yang cukup bersejarah dalam dunia pendidikan nasional. Sebab pada tanggal tersebut diperingati sebagai haripendidikan nasional (HARDIKNAS) Indonesia. Dari pandangan yang diberikan oleh Drs. H. Rusdiansyah, M.P. yang merupakan dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat, menurut beliau pendidikan itu ada kuantitas dan kualitas. Untuk kuantitas pendidikan sudah cukup baik karena semua orang bisa bersekolah dengan gratis, hanya tinggal diperlukan kemauan dari diri sendiri saja. Sementara dari segi kualitas, ini berkaitan dengansarana dan prasarana yang mempengaruhi antara lain si pendidik dan fasilitas yang ada.

Namun tidak itu saja faktor yang mempengaruhi kualitas dari pendidikan itu, melainkan juga ditentukan daritingkat kesejahteraan keluarga siswa yang bersangkutan. Bila tingkat kesejahteraan keluarganya rendah maka siswa tersebut akan kurang dalam mengikuti pelajaran di sekolah dikarenakan pemikiran yang ingin membantu perekonomian keluarga. Hingga tidak jarang banyak anak yang tidak bersekolah karena bekerja. Meski begitu, bukan berarti semua siswa yang memiliki keluarga kurang sejahtera selalu terkebelakang, justru kadang-kadang mereka inilah yang memiliki semangat belajar yang tinggi.

Pemerintah juga telah memberikan bantuan bagi anak yang tidak mampu agar tetap bersekolah, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Dana BOS. Namun bantuan tersebut digunakan tidak sebagai mestinya seperti yang di rancang pemerintah. Bantuan tersebut justru di pergunakan oleh orang tua siswa untuk keperluan sehari-hari bukan untuk keperluan belajar siswa. Maka dari itu sekarang ini pemerintahmengubah skema pemberian bantuan dari bantuan tunai ke non tunai, sehingga siswa tidak lagi menerima uang melainkan langsung pada keperluan belajar seperti buku-buku tulis, buku pelajaran, seragam sekolah dan lain sebagainya.

 Pendidikan sekarang juga tidak sama dengan pendidikan dulu yang benar-benar bertujuan mendidik siswanya untuk belajar. Pendidikan sekarang dinilai lebih bebas, yang maksudnya tergantung pada siswa itu sendiri yang menentukanapakah ingin pintar atau tidaknya mereka. Belum lagi pengaruh dari kemajuan teknologi seperti keberadaan handphone yang kebanyakan malah digunakan hanya untuk bermain game saja.

            Dosen jurusan IESP ini juga mengungkapkan, bahwa problem pendidikan dari dulu sampai sekarang ini yaitu, pendidikan selalu ditujukan untuk orientasi pekerjaan. Padahal, harusnya tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah untuk mengubah tingkah laku dan juga menjadi seorang yang pemikir. Dari situ nantinya mampu menyesuaikan diri dan bisa mendapatkan pekerjaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *